RSS

Dari Jerman ke Belanda: “Mimpine Wong Ndeso”

10 Oct

Tema “wong ndeso” yang bisa dan sukses dalam mewujudkan mimpinya mungkin sudah banyak didengar di telinga dan di baca di manapun, terlebih dengan mulainya euforia Pak Jokowi, wong ndeso yang jadi RI-1. Saya hanya akan menambahkan satu cerita saja, bukan cerita sukses, tetapi lebih pada “bagaimana bisa”, karena kalau ukurannya sukses, milestone-nya pasti akan lain.

Semua pasti berawal dari mimpi, banyak doa dari Ibu, dan dengan sedikit kebetulan.

Mimpi saya sejak kecil sangat sederhana, bahkan mungkin sering dijadikan bahan bercandaan. Bagaimana tidak, ketika yang lain ingin menjadi dokter seperti dokter Thomas (dokter yang sangat terkenal dan menjadi rujukan hampir semua orang di Boyolali), atau menjadi insiyur seperti kebanyakan generasi akhir 80an dan awal 90an, dari kecil saya hanya ingin menjadi pemandu wisata. Bertemu dengan orang-orang baru, belajar budaya dan bahasa, serta tentu saja bertukar ilmu adalah beberapa hal yang menjadi idaman bocah kurus kerempeng itu. Makanya saya selalu bersemangat ketika belajar bahasa Inggris, sekedar maju ke depan kelas, atau rela ikut les tambahan bahasa Inggris, meski perempuan cinta pertama saya (yang gak kesampean) gak pernah ikut les itu. Semua demi menjadi pemandu wisata! Simpel tapi bermakna banyak.

Doa Ibu adalah hal kedua yang sampai sekarang masih saya pegang teguh meski sudah beranak dua dan beristri satu (awas jangan kebalik!!!). Setiap ada hal penting, semisal tes, ujian, atau apapun itu, saya selalu sempatkan untuk sekedar menelpon Ibu untuk memohon restunya. Meski hampir setiap kali saya menelpon, ucapan balasan dari ujung sebelah telpon pasti kurang lebih sama, mendoakan sukses dan lancar dan seterusnya, tapi saya usahakan untuk tidak bosan mendengarkan. Classic but it’s work!! (at least for me).

Yang ketiga adalah kebetulan, saya selalu memaknai kebetulan di saat rencana yang sudah disiapkan kemudian berubah atau bahkan berbeda. Seperti ketika saya kelas 2 SMA dan diminta memilih jurusan untuk kelas 3 SMA, saya memilih jurusan bahasa, namun apa lacur, guru wali kelas meminta untuk memilih IPA karena ada kemungkinan kelas bahasa ditiadakan. Pun begitu ketika memilih jurusan kuliah. Karena sudah terlanjur IPA, oleh kakak diminta mengambil jurusan Planologi saja, suka jalan-jalan dan pinter ngomong kan?, begitu seru kakak saya. Ketika sudah lulus pun, kebetulan ada lowongan dosen dan kemudian karena calon dosen cowok yang menjadi kandidat kuat justrumemilih mengundurkan diri, saya akhirnya jadi dosen (mungkin karena tinggal saya satu-satunya pilihan cowok dan tidak ada pilihan lain?). Semua  kebetulan-kebetulan itu mewarnai hidup saya yang telah berumur lebih dari tiga puluh tahun ini (sengaja tidak ditulis angka agar me-muda-kan tingkat kepercayaan diri umur saya).

Tiga kombinasi itulah yang sampai saat ini membawa saya, wong ndeso dari Boyolali, yang bahkan bapaknya hanya lulusan PGAA (Pendidikan Guru Agama Atas, setingkat SMA), ibunya hanya lulusan SMP, yang bener bener culun (mungkin sampai saat ini), alhamdulillah pernah merasakan S2 di TU Berlin, Jerman dan saat ini baru menginjak 1 bulan S3 di Utrecht University, Belanda.

Fabiayyi aala’i rabbikuma tukazziban..

 

Utrecht, 10 Oktober 2016

 
1 Comment

Posted by on 10 October, 2016 in Uncategorized

 

One response to “Dari Jerman ke Belanda: “Mimpine Wong Ndeso”

  1. Tommy

    11 October, 2016 at 1:37 AM

    Mantap Wan. Mengingatkan kembali untuk selalu bersyukur. Good luck dsana bro.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: