RSS

Internship 2.0: Combine, SID dan minggu pertama (02)

05 Mar

Selasa, 28 Februari 2012
Berbekal ingatan hasil searching di google maps, ternyata tidak susah menemukan kantor Combine Resource Institution yang lokasinya di belakang Pasar Niten baru. Inilah hari pertama petulangan internship saya dimulai. Sesuai hasil surat menyurat email dengan Mas Joyo, coordinator program SID, hari ini jam 10 pagi adalah hari pertama saya memulai internship. Tepat jam 10 pagi sampai pukul 1 siang, beliau menjelaskan beberapa informasi tentang Combine dan SID, sambil diselingi diskusin antara kami. Beberapa informasi yang ada di catatan saya adalah sebagai berikut.
1. Combine merupakan program dibawah SMERU pada tahun 1999, sebelum menjadi institusi penguatan kapasitas sampai sekarang, yang dikenal dengan istilah CRI = Combine Resource Institution. Ada 4 pilar yang dimiliki Combine yakni:
a. pilar komunikasi, contoh program yakni suarakomunitas.net, Jalin Merapi dan Tikus Darat
b. pilar ekonomi, program Pasar Komunitas (pasartani.combine.or.id)
c. pilar kapasitas akar rumput, program Lumbung Daya dan Lumbung Komunitas
d. pilar yang tidak ada dalam catatan saya (maaf lupa… )

2. Asal mula SID pada awalnya dimulai semenjak tahun 2004 dan 2005. Contoh yang menjadi tolok ukur adalah Sekolah Alternatif Qoryah Tayyibah Salatiga Baharuddin (sppqt.or.id). Jangan menilik dari namanya, karena ini adalah sebuah perkumpulan kelompok tani yang merupakan sebuah ‘collective action’ dari para anggotanya untuk memetakan keahlian.

3. Lumbung Daya dan Lumbung Komunitas merupakan dua program yang menjadi awal mula sebelum adanya program SID, dimulai dengan diskusi pada 2006 yang menjadi intensif semenjak 2008. Diskusi yang melibatkan Desa Terong, Bantul dan Desa Balerante, Klaten mendapatkan suatu kesimpulan bahwa dibutuhkannya manajemen data dan informasi yang efektif dan efisien dalam pemerintahan desa, terlebih selama ini desa hanya sebagai pos pengumpulan data saja, desa tidak memiliki hak otonom dalam pengelolaan data. COntoh mudahnya dalam pembuatan KTP dimana desa hanya membuatkan surat untuk dibuat di kecamatan. Hasil diskusi tersebut masih menimbulkan beberapa pertanyaan seperti:
– Siapa kelompok sasaran dalam system informasi tersebut?
– Bagaimana menegelola jumlah komunitas di desa yang banyak?
– SID dikelola pemdes??
– Keakuratan dan peng-update-an data?
– Hubungan SID dan profil desa?? (profil desa adalah 84 indikator database desa yang harus di’setor’kan oleh Pemdes tiap tahunnya kepada Kecamatan dan Kabupaten)

4. Meninggalkan sejumlah tandantanya sebagai tantangan yang harus dipecahkan, pada 2009 inisiasi SID dimulai di Balerante dan Terong, dimana pada 2010 SID versi 1.0 resmi diluncurkan. Pada awalnya SID merupakan basis data kependudukan yang mana target besarnya nanti adalah basis data yang berdasar pada pengelolaan sumber daya komunitas sebagai dasar pengambilan keputusan.

5. Saat ini sudah beberapa desa menerapkan SID 2.0 dimana contoh yang sukses adalah di terong-bantul.web.id. Penekanan yang dilakukan oleh SID adalah bahwasanya online bukan merupakan target utama atau prioritas dari program ini. Penekanan yang utama justru pada update data, sustainability, keakuratan dan strategi yang konvergen.

Comments:
1. Awalnya saya sendiri agak ‘pesimis’ dengan keberadaan database dengan menggunakan pola system informasi (entah online atau offline) yang ada di tingkatan desa. Memang benar kalau desa itu cikal bakal pembangunan di Indonesia, bahkan ada sebuah pepatah yang bilang bahwa dengan membangun desa sama artinya dengan membangun Negara. Persepsi saya masih juga meng-under estimate-kan desa, apakah iya mampu? Salah satu pertanyaan besar saya adalah “Bagaimana dengan resource(s) pengelolaannya yang mungkin terbatas kalau ini berada di tingkat desa?” karena ini akan berpengaruh pada keberlanjutan program itu sendiri. Tidak mungkin sebuah program di tingkatan desa didampingi terus menerus oleh sebuah LSM bukan?? Walau saya tidak tahu angka pastinya, tingkat pengetahuan internet dan basis data masyarakat desa ‘mungkin’ lebih rendah dari masyarakat peri-urban dan urban. Saya sendiri pernah 2 bulan KKN di sebuah desa di Wonosobo, yang human resource nya luar biasa, tapi untuk di-instal program seperti ini? Inilah pertanyaan nakal saya yang membuat ketertarikan saya semakin menjadi di internship ini.

2. PErtanyaan saya diatas sedikit terjawab dengan contoh sukses SID di Desa Terong. Aparat desa-nya sudah melek computer, dan SID di desa Terong sendiri merupakan inisiatif dari desanya, bukan dari Combine-nya. Ini mungkin titik balik yang mejadi catatan saya hari ini. Bahwa untuk installment program SID, harus merupakan inisiatif dari desa yang bersangkutan. Combine memang akan menjadi actor utama yang akan membantu, tetapi tetap, inisiatif adalah dari desa. INilah mungkin yang membedakan dengan program-program lain, dimana desa harus meng-agguk-angguk mengikuti kebijakan program, dengan inisiatif asal mula entah dari mana (biasanya sih pemerintah kabupaten atau bahkan pusat!)

3. Titik balik point 2 itulah yang membuat saya berpikir lagi bahwa dengan inisiatif dari desa, mereka sudah menakar dan menilai diri mereka plus kemampuan mereka untuk melaksanakan program ini. Jadi mungkin mereka sudah siap dengan senjata sebelum pergi perang dengan SID. Termasuk mungkin SDM pengelolanya dan bagaimana menjaga keberlanjutannya.

Rabu, Kamis 29 dan 1 Maret 2012
Setelah diskusi yang sangat menarik di hari pertama, 2 hari berikutnya sangat membosankan (jujurrr!!). Saya diberi beberapa literature dan bacaan untuk ditelaah, karena kebetulan Februari akhir adalah hari tutup buku. Mas Koordinator sibuk dengan LPJ dan kwitansi-kwitansinya. Hari rabu bahkan saya sempat pergi ke kampus UGM dulu, sekedar setor muka.. hehe😀
Saya sempat takut kalau ini yang akan terjadi sebulan kedepan, baca literature, browsing dan lain-lain, apalagi ini adalah bulan baru sesudah tutup buku. Biasanya, awal bulan buku adalah awal yang membosankan dan berkutat dengan anggaran. Syukurnya, email dari Mas Joyo di Kamis sore menghapus semuanya. Email tersebut berisi ajakan untuk mengikuti pertemuan MPM di Wirobrajan Jumat jam 9 dan diskusi dengan IDEA jam 13. Tanpa tahu apa itu MPM dan IDEA, wajah saya berseri sore itu. 

Comments:
1. Meski hanya studi literature dan browsing, beberapa hal sempat saya cari, misalnya mencari bagaimana keberadaan data yang akurat dan ter-update mampu menjadi instrument penting dalam pengambilan keputusan (yang ternya agak ruwet karena menggunakan analisis AHP dan teman-temannya). Referensi saya juga bertambah dengan membaca system desa-kotanya Mbah Terry McGee meski dulu sudah dijelaskan waktu S1.

2. Saya juga sempat merasa agak aneh dengan SID yang dimiliki beberapa desa sasaran program, karena terlihat jelas kesuksesan desa Terong dibanding desa lainnya, terutama dari segi kelengkapan dan update data. (walau waktu membaca komen yang ditinggalkan pengunjung di Desa Terong mempertanyakan ‘kok datanya jarang di-update’)

Jumat 2 Maret 2012
INi adalah hari saya mendapat banyak ilmu. Mengapa? Oke, saya jelaskan per agenda, mulai dari agenda pertama: MPM dan kedua: diskusi dengan IDea

1. Masyarakat Peduli Media (MPM)
Sampai saat ini ditulis, saya masih belum tau apa itu MPM (yang awalnya saya kira berafiliasi sama Muhammadiyah), dan saya malas mencari tau dengan google. Yang saya tau pada pagi itu, markasnya MPM digunakan untuk diskusi tentang UU Keterbukaan Informasi Publik yang belum berjalan di Yogyakarta. Di Jogja sendiri sesuai amanat UU tersebut telah terbentuk Komisi Informasi Publik DIY semenjak September 2011. Komisi ini menengahi bila ada sengketa keterbukaan informasi. Ambil contoh misal X wali murid di SD pqrs meminta pihak sekolah mengeluarkan informasi bagaimana cara menilai siswa yang boleh dan tidak boleh masuk di sekolahnya, tetapi si pihak sekolah tidak memenuhi permintaan tersebut, sehingga dibawalah masalah ini ke komisi tersebut untuk dipecahkan bersama. Nah, apa yang terjadi di Jogja adalah semenjak komisi tsb terbentuk, belum ada satupun aduan masyarakat yang bisa ditindaklanjuti. Beberapa indikasi mengapa aduan tersebut masih NOL adalah:
– Budaya ewuh pakewuh, kekerabatan dan lain lain yang ada di Jogja, terutama untuk mengadukan
– Ketidaktahuan masyarakat tentang UU ini
– MEmang tidak ada masalah! 

Nah, diskusi yang dimulai semenjak jam 10 sampai jam 12 ini membahas masalah tersebut dan bagaimana solusinya. Diskusi sendiri dihadiri oleh beberapa LSM dan aktivis-aktivis lainnya menyimpulkan bahwa:
a. Perlu adanya ‘pendidikan’ kepada masyarakat, bukan hanya sosialisasi tetapi juga contoh nyata, salah satunya dengan menerapkan UU KIP diantara peserta yang hadir.
b. Adanya tema-tema tertentu yang akan dikawal oleh para peserta, contohnya:
– Tema transportasi: pengelolaan bus TransJogja, retribusi Parkir
– Tema planning: rencana Kridosono, rencana Malioboro
– Tema kesehatan: manajeman askes untuk warga miskin

Comments:
Sebenarnya saat diskusi inilah mata saya terbuka, bagaimana posisi dan keberadaan LSM ternyata cukup penting dalam pengelolaan kota, terkait dengan akuntabilitas dan transparansi. Selama ini, kalau ikut proyek tata ruang, saya menganggap bahwa ada saatnya nanti diseminasi atau sosialisasi kepada masyarakat, terkait rencana yang sudah disusun, itupun kalau dananya masih ada dari konsultan. Dengan mengikuti diskusi ini, saya merasa bahwa masih banyak informasi yang ditutup oleh planner kepada masyarakat, bagi saya sendiri terkadang agar pembuatan rencana “tidak terganggu” oleh suara-suara vocal masyarakat.

2. Siang: Diskusi dengan IDEA
Setelah jumatan, diskusi dilanjutkan di Raminten, Kota Baru, semacam tempat makan asik yang baru pertama kali itu juga saya datangi. Topik kali ini cenderung kepada tema internship saya tentang SID. Ternyata dalam implementasinya di Gunung Kidul, SID yang dibangun oleh Combine juga bekerjasama dengan IDEA, sebuah LSM yang bergerak dalam pengentasan kemiskinan. Mengapa? Ya karena topic SID yang di Gunung Kidul memang untuk pengentasan kemiskinan.

Diskusi sembari makan siang tersebut, membahas tentang progress dan rencana SID di Gunung Kidul, terutama persiapan dalam 2 minggu ke depan yang akan mendapatkan kunjungan dari Jakarta dan dari Menkokesra. Meski diskusi cenderung kepada persiapan desa tsb sebagai kunjungan, tetapi juga dibahas beberapa isu tentang SID di Gunung Kidul, terutama bagaimana sinkronisasi SID dengan Profil Desa dan bagaimana SID mampu menampung indicator kemiskinan yang berbeda-beda antar instansi (setidaknya ada 4 instansi yang memiliki indicator kemiskinan).
Comments:
Yak, inilah yang benar-benar menghapus ketakutanku kalo kalo internshipku kali ini bakal dibalik meja saja. Hehe..  Dengan ngikuti proses SID di Gunung Kidul, aku bisa menjawab pertanyaanku sendiri tentang seberapa mampukah dan sebera sustainkah nanti SID ini di implementasinya.

Next Agenda:
Senin: Diskusi internal di Combine untuk persiapan kunjungan
Selasa: Diskusi dengan IDEA
Rabu-Sabtu: ke Gunung Kidul!

 
Leave a comment

Posted by on 5 March, 2012 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: