RSS

Internship 2.0: Apa, Mengapa, Dimana (01)

05 Mar

Di perkuliahan saya, ada mata kuliah internship (2 ECTS) yang mewajibkan mahasiswa untuk melaksanakan program tersebut dimanapun tujuan mahasiswa tsb. Pengelola program studi dari awal perkuliahan memperkenalkan internship salah satunya dengan tujuan sebagai penjembatan mahasiswa untuk mencari topic dan data thesis. Oleh karena itu, ketua program studi saya tidak terlalu membebani mahasiswa tentang lokus, berapa lama, dan apa yang akan dikerjakan, bahkan untuk pertanggungjawabannya hanya diminta menulis laporan ‘setebal’ 3 lembar saja!! Saya sendiri sempat berpikir bahwa inilah bedanya internship S1 dulu dengan S2 sekarang, dimana mahasiswa S2 mungkin cenderung lebih bertanggungjawab dan lebih dipercaya, jadi ya terserah si mahasiswanya.
Flashback sebentar ketika S1 dulu, saya internship atau istilahnya kerja praktek (KP) di program pengentasan kemiskinan PNPM-P2KP. Dengan beban 3 sks, ada batasan waktu yang diwajibkan dari program studi saya, termasuk pembimbingan dan laporan dengan dosen yang telah ditunjuk. Saya melakukan Kegiatan KP dengan terlibat langsung dalam tim yang mendampingi masyarakat 6 kelurahan untuk implementasi program PNPM P2KP selama kurang lebih 5 bulan. Banyak pengalaman yang saya dapatkan karena itu adalah untuk pertama kalinya saya terjun berdampingan dengan masyarakat, terutama masyarakat kota yang dalam mindset saya, meski hanya di Yogyakarta tetapi telah menjadi kaum urban dengan dinamika yang penuh tantangan. Ketertarikan saya pada social planning ini lebih dalam kemudian membuat skripsi saya juga bertema yang sama.

Kembali ke tema internship kuliah saya yang sekarang, kebebasan yang diberikan ternyata tidak semudah pelaksanaannya. Banyak riset-riset dan pekerjaan internship yang mensyaratkan kemahiran bahasa jerman cas cis cus, sesuatu hal yang juga diingatkan oleh ketua program studi saya. Ketua program studi saya juga menyarankan untuk pulang kampung saja untuk melaksanakan internship, bagi yang kesusahan dengan syarat ini. Bagi saya pribadi ini seolah ‘pembenaran’ sekaligus peluang untuk benar-benar pulang kampung dan menjenguk buah hati tercinta. hehe🙂

Dengan keterikatan lokus yang ‘sebaiknya’ di Jogja, membuat kepala sempat berkerut juga. Sepertinya tidak mungkin saya internship di instansi kepemerintahan sementara saya belum tau topic thesis saya akan seperti apa. Berbeda misalnya bila saya sudah tahu topic saya, misalnya topic pertanahan Sleman, mungkin bisa di BPPD atau BPN Sleman. Tanpa tau topic yang akan saya dalami, saya putuskan untuk kemudian melakukan internship dimana saya bisa belajar dengan lebih optimal.

Awalnya, saya putuskan untuk ke lembaga yang ada kaitannya dengan Jerman, GIZ, karena selain saya kuliah disini, sepengetahuan searching ‘mbah’ google, GIZ juga sempat melakukan proyek penguatan kapasitas pemerintah di Jogja. Alasan lain adalah Ternyata setelah mendapatkan kontak dari orang GIZ, proyek di Jogja sudah selesai 2011, dan sekarang proyeknya ditarik ke Semarang. Yaaahhh… 
Searching berlanjut kenapa tidak ke LSM saja? Berdekatan dengan kaum idealis dan akar rumput mungkin akan menjadi pembelajaran baru dan kritis bagi saya pribadi. Pilihan jatuh ke Combine Resource Institution. Ada beberapa alasan mengapa memilih LSM yang bermarkas di Bantul tersebut. Pertama adalah penghargaan tinggi sekaligus keheranan saya ketika bencana Merapi 2010 kemarin (bahkan sampai sekarang). Combine melalui ‘Jalin Merapi’ adalah salah satu sumber informasi melalui akun twitter yang up to date bukan hanya tentang status Merapi tetapi juga update kebutuhan korban dengan pos-pos bantuan yang mereka dirikan.

ALasan kedua adalah keberadaan ‘kenalan’ yang sudah bekerja lama di Combine. Beliau memberi banyak nasehat tentang apa dan bagaimana Combine, serta proyek apa yang sedang dilakukan. Ini tentu untuk menghindari ‘pengangguran tidak kentara’ ketika melakukan internship. Setelah mendapatkan cukup informasi, ternyata yang dari awalnya ingin ke masalah Merapi, saya terbelokkan ke program SID (Sistem Informasi Desa). Tentu saja, untuk mengecek seperti apa SID ini, saya browsing mbah google untuk mengetahui seperti apa gambaran kasar SID sebelum melangkah lebih lanjut: menghubungi coordinator program.

Tidak butuh waktu lama untuk mengubungi coordinator program dan direktur Combine via email yang kemudian menyetujui permohonan internship dengan mudahnya. Salah satu sisi positif yang saya rasakan dari proses di Combine adalah mereka tidak membutuhkan proses surat menyurat yang resmi dan berbelit belit. Kata bu direkturnya, “Kami adalah institusi pembelajaran, jadi tidak perlu surat yang terlalu ribet”.
APa itu Combine dan SID? Tunggu postingan berikutnya.

Salam..
Godean, 03 Maret 2012

Many thanks to:
• Istriku yang networkingnya mantap.
• Mbak Merry, ‘kenalan’ yang dicritakan di atas
• Mas Elanto ‘JOYO’ Wijoyono, koordintor SID
• Bu Direktur..

*Tulisan ini semoga menjadi jawaban atas pertanyaan seseorang 

 
Leave a comment

Posted by on 5 March, 2012 in Every-thinks

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: