RSS

The Steps… Langkah(ku) menuju Impian..

22 Oct

Menjelang detik-detik keberangkatan ke Jerman, banyak yang bertanya, “kok bisa dapet beasiswa itu” “kok dapet jerman” “kok milih ini.. itu” dan sebagainya. Well singkatnya itu bukan perjuangan sehari-dua hari. Persiapan yang dilakukan juga cukup lumayan panjang, tentu saja disela kesibukan yang lain yang menyita waktu. Ini yang sudah saya lakukan:

1.       PERSIAPAN BAHASA

Saya lulus dari s1 pada November 2008 dengan kemampuan bahasa asing yang pas-pasan, entah bahasa Inggris maupun bahasa asing lainnya. Kemampuan studi saya pun juga tidak terlalu “high quality”. Cum-laude tapi yah standar.

Yang saya lakukan pertama adalah Men-scanning kemampuan bahasa. Bahasa Inggris masih perlu diupgrade banget karena TOEFL masih di level 490an. Waktu itu karena baru lulus (yang pasti tanggung, duit belum ada, malu mau minta orang tua) akhirnya memilih kursus bahasa Inggris yg murah dan diadakan di gedung SD!! Seingat saya bayarnya gak nyampe kepala 300 ribu pa ya! Hehe lupa.

Kedua adalah tetapkan target. Rata-rata sekarang kan nilai TOEFL sudah 550, bahkan ada yang 570, plus pake IBT (min 90an), ITP itu hanya bersifat sementara utk beberapa beasiswa. Nanya kesana kemari, termasuk ke guru bahasa Inggris, katanya untuk level Jogja ada 4 lembaga yang cukup bisa mendongkrak dengan harga bersaing yaitu PPB UGM, SANATA DHARMA, ALFA ENGLISH COURSE dan CILACS. Karena kedekatan, les bahasa inggris saya lanjutkan di PPB UGM. Lumayan, waktu pre test 507, waktu keluar uda 530an pa ya.. lupa lagi! Hihi.. Tapi yg paling diinget krn utk syarat melamar mjd staf pengajar min 550, saya nyoba 2 kali ITP. Yang pertama kena 537, yang kedua 570. Nilai yang kedua ini yang dipake melamar beasiswa kemana-mana.

Ketiga jaga kemampuan. Bahasa adalah tentang kebiasaan. Waktu selesai kursus di PPB, emang sih si kemampuan structure untuk TOEFL jadi lumayan terasah, tapi begitu seminggu, dua minggu, atau bahkan sebulan nganggur gak dipake dijamin bakal tergerus. Lanjuttt…karena diajakin juga bareng staf pengajar dan dosen muda yang lain, akhirnya les ke-tiga di CILACS UII, kali ini dengan model privat 5 orang, tapi biayanya 700an ribu. Murah keitungnya apalagi sekarang temanya adalah IELTS, model yg dipake British ama Aussie.
Belum puas juga setelah di Cilacs lanjut les di Real English, dengan tema conversation. Sumpah, yang ngajar cuantikkkk bangettt!! Namanya juga cantik, Phoebe. Jian masuk teruss tiap hariii!! *dan pengen les lagi*

Keempat expand ke bahasa asing lain. Ini hanya tambahan sih, karena beberapa bahasa asing seperti Italia, Perancis, Jerman membuka kesempatan beasiswa yang masih sedikit peminatnya.
Setelah Inggris cukup bisa, belum mahir mahir amat sih sebenernya, saya juga nyoba ke bahasa yang lain: pilihannya adalah JERMAN, krn kebetulan sudah pegang LoA dan sedang menunggu beasiswa (ceritanya di bagian lain ya!). Ini menurut saya kelas yang paling menyenangkan diantara kelas bahasa yang pernah saya ikuti. Disitu betul-betul kelasnya terbentuk, belajar bersama, sampai nongkrong bersama. Lumayan walau gak dong dan sering cekikikan di kelas. *ups* *moga gak dibaca dan ditiru mahasiswa* hehe..

Kelas bareng Deutsch-sprechen di Pusat Studi Jerman UGM (sumber gambar: Facebook PusMan UGM)

2.       STRATEGI…

Sampai awal 2011, strategi yang saya pakai adalah sikattttt semua beasiswa yang berhubungan dengan bidang studi Planologi. Total hampir 10 beasiswa yang dicoba, mulai dari DAAD, ADS, Mundus Urbano, Mundus Lotus, Hongkong Univ, Tokyo Univ, AMINEF, India, Dikti, Chevening dan hasilnya: hanya 2 yang lolos. Hampir semua informasi didapat dari milis beasiswa@yahoogroups.com. Many thanks to mbak jeki yang menyadarkan bahwa taktik ini totally wrong. Sekali lagi,  First you gotta know who you are and what you are, harus tau dimana posisi kita dan apa yang pengen kita cari. Waktu sudah sadar, ya jadinya efektif, tidak seperti orang mencari kerja, beli amplop dan lain-lain untuk melamar. Kebetulan karena menjadi staf pengajar akses ke Dikti jadi lebih mudah, apalagi Dikti sepertinya sedang “jor-jor-an” memberi beasiswa.

Berikutnya, ya mulai beraksi. Kalo saya, aplikasi saya bikin serapih mungkin (sampe istri saya terheran-heran). Antar persyaratan yang diminta dikasih pembatas berwarna biru, kemudian di form paling depan disiapkan kertas khusus tentang syarat apa aja dan kemudian dicenthangi, bukti bahwa kita sudah cek dan ricek.
Kaitannya sama beraksi nih, biasanya selain masalah kemampuan bahasa, dari 10 beasiswa yg saya coba itu biasanya minta recommendation. Hal yang sampe membuat jadi “rai gedhek” (muka tebal), karena ya bayangin aja meminta rekomendasi terus sampai 10 kali ke dosen-dosen senior. Hehe.. Sampai-sampai Kajur di tempat saya bilang: “rekomendasi lagi mas??” hehehe… “iyya pak!”

Nih tempelannya:

Tempelan Perjuangan: Saksi Bisu…😀 *lebay* (gambar via HP so rada nge-blurrr)

3.       PUNYA LoA lebih MANTAPP

Beberapa beasiswa memiliki karakter masing-masing, ada yang beasiswa baru sekolahnya nanti, kayak AMINEF, ADS, ada yang barengan milih, ada yang sekolah dulu baru beasiswa. Naaa, dari yang saya lakukan, jangan segan untuk meminta Acceptance Letter, LoA, Admission Letter atau surat yang menyatakan anda diterima. Di luar negeri sudah biasa univ memberikan LoA tapi mahasiswa gak jadi masuk, jadi jangan disamakan sama di dalem negeri ya..
Kasus saya, saya tidak diterima untuk beasiswa DAAD, tapi dari uni-nya menerima, ya sudah diminta aja LoAnya. Siapa tau nanti kepake. Kalo pada deadlinenya tidak dipake ya bilang aja saya tidak mendapatkan beasiswanya. Beres!

4.       DOA!!!!

Yaaa kayak Mario Teguh yang selalu menganjurkan berdoa, tapi kebiasaan tambahan saya adalah meminta doa dari ibu’. Alhamdulillah…

Okee… that’s All… Sebagai catatan ini adalah langkah yang saya lakukan, mungkin dari web lain, blog lain, atau milis lain anda mendapat langkah yang lebih bagus dan berbeda, mari kita sharing bersama. For me, dari 10 beasiswa, 1 tahun pencarian dan beberapa kursus bahasa, akhirnya Alhamdulillah saat ini saya bisa mengetik tulisan ini dari Berlin Jerman, Thanks to Alloh, my Mom, my Luvly Wife, My Little-Hero-wannabe, and my families.

Danke im Voraus!

*In this writing:
Mbak Jeki: Jeki Trimarstuti, saat ini sedang melanjutkan S2 di Korea Selatan dengan beasiswa dari sono. Saya sangat terinspirasi dari beliau.

 
5 Comments

Posted by on 22 October, 2011 in Every-thinks

 

5 responses to “The Steps… Langkah(ku) menuju Impian..

  1. dicha irnanda

    6 March, 2013 at 5:57 PM

    Ga sengaja ngebaca blog ini gara2 mau sarching les bhasa inggris. Terharuu bgt dan sanga menginspirasi. Semogabis ikutannyusul🙂

     
  2. YAS

    1 May, 2013 at 7:23 AM

    mau nanya nih… les di real english berapa ya buat ningkatin toefl/ielts?

     
    • iwansuharyanto

      24 March, 2014 at 10:49 AM

      Hehe.. Maaf blog saya mati suri. Tahun 2011 seingat saya 1,5 jt untuk speaking dng native speaker.🙂

       
  3. rendy

    27 January, 2015 at 5:04 AM

    mas saya ingin kursus toefl nih..menurut mas kursus toefl yang bagus di jogja dimana ya mas?

     
    • iwansuharyanto

      31 October, 2016 at 7:01 PM

      Maaf blog saya mati suri, ini baru baca semoga tidak telat ya. Jadi kalau tujuannya ingin meningkatkan nilai TOEFL, namun dana terbatas, saran saya di PPB UGM atau Cilacs UII. Kalau ada dana lebih bisa di Real English. Semoga menjawab.

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: