RSS

Perencana “Mata Burung”??

19 Aug

 

Terhenyak ketika tadi pagi akun twitter yang saya follow @marcokusumawijaya menulis di Blog beliau tentang kisah yang beliau alami di Papua. Ini adalah potongan cerita yang saya penggal:

Lengkapnya bisa di cek sebagai berikut:

http://id.berita.yahoo.com/blogs/newsroom-blog/menatap-kota-bukan-dari-mata-burung.html;_ylt=Am8pB.MMT.PMdH3qoWoJBBF7V8d_;_ylu=X3oDMTBvM29lZ2VvBHBvcwM0BHNlYwNNZWRpYUJsb2dJbmRleA–;_ylg=X3oDMTFxdGwxOGRkBGludGwDaWQEbGFuZwNpZC1pZARwc3RhaWQDBHBzdGNhdANhdXRob3IEcHQDc2VjdGlvbnMEdGVzdAM-;_ylv=3#more-id

Mungkin memang pengalaman beliau sudah banyak dan berjibun, tidak seperti saya yang pengalamannya masih dihitung dengan jari. Tapi, sebagai seorang alumni PWK, mengabdi sebagai tenaga pengajar (belum dosen), mengalami sebagai asisten perencana (belum perencana), menurut saya, apa yang ditulis Pak Marco kurang menggambarkan bagaimana seorang perencana bekerja dalam bidangnya.

Berkaca dari pengalaman, saya pernah membantu dalam pekerjaan makro seperti RTRW Kabupaten, tataran mezo RDTR Kecamatan bahkan sampai pada tataran mikro berupa penataan kawasan yang hanya 5 hektare dan 10 hektare. Bahkan skripsi saya mengangkat tema partisipasi yang merupakan “perpanjangan tangan” dari kerja praktek saya, yang kurang lebih selama 6 bulan saya mendampingi masyarakat di 6 kelurahan dalam program PNPM P2KP. Dari pengalaman yang beragam dari berbagai skala tersebut saya memperoleh pelajaran berharga bahwa dalam skala tertentu tersebut, seorang perencana memiliki penekanan tertentu yang harus diprioritaskan. Misalnya saja dalam skala pendampingan masyarakat, tentu seorang perencana harus tekun, aktif dan dengan motif mulia menjadi partner masyarakat.

Dalam skala yang lebih besar yang pernah saya alami, RDTR Kecamatan, disini seorang perencana harus melihat bagaimana komplek bangunan, blok plan dalam sebuah kecamatan tersebut membentuk jejaring intern dan ekstern yang akhirnya menjadikan fungsi sebuah kecamatan. Skala yang lebih besar, Kabupaten, mungkin ini konteks mata burung yang disebutkan oleh Pak Marco. “Melihat dari atas” hanya berlaku bagi para perencana. Sehingga, sistem dan kedudukan terlihat. Selebihnya tidak.” Dalam pembuatan RTRW Kabupaten, hal yang menjadi fokus adalah konektivitas dan tata sistem kabupaten tersebut. Selebihnya, perencana biasanya melibatkan tim yang juga mengkaji bagaimana dinamika ekonomi dan kependudukan serta hal lain yang menjadi ciri khas “warna” dari wilayah tersebut.

Jadi, menurut saya yang masih sangatlah belum tahu apa-apa ini, perencana adalah seseorang yang kontekstual. Ketika bergelut dengan tataran makro, maka “pisau” makro yang digunakan untuk merencanakan. Pun juga sebaliknya, bila kita berada di tengah-tengah kampung, maka letakkanlah pisau makro dan pakailah “pisau” kampung…

Terakhir, saya ingin mengutip dari salah satu dosen yang sedang menjadi primadona di PWK UGM: “A planner should be able to observe the object from everywhere, even from soul of the community.”

 

Salam kontekstualisme! Merdekaaa!!!

 
Leave a comment

Posted by on 19 August, 2011 in Every-thinks

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: