RSS

SATPOL PP = Gelandang Angkut Air??

22 Apr

Dalam dunia sepakbola modern, dikenal istilah gelandang angkut air. Defensive Midfielder yang memiliki nafas kuda, berstamina hercules dan memiliki daya jelajah yang prima [lebay bener]. That’s the facts dude. Banyak contohnya, mulai dari Claude Makelele (madrid, chelsea), Vieira (Arsenal Inter, City), Sissoko (Liverpool, juve), Mascherano (liverpool), Diarra (madrid), Cambiasso (1nter), de el el…

Tugas mereka singkat: hentikan serangan lawan dengan cara “apapun”. Singkat tapi tidak ringan. Lawan cedera, kartu kuning, bahkan sampe diusir adalah resiko yang harus ditanggung. Dirty-works tapi merekalah pemberi rasa aman bagi tim. Sekali mereka ditembus ya bubrah lah pertahanan sebuah kesebelasan. Kalopun timnya menang, jarang mendapat penghargaan man of the match, kalo timnya kalah pasti jadi orang yang pertama disalahkan. Nasib..nasib..

Berlebihankah ketika saya membandingkan gelandang pekerja keras dalam sebuah kesebelasan sepakbola dengan kesatuan yang dinamakan Satpol PP?? Masih inget kan ya ma Priok Berdarah yang terjadi 14 April? Satpol PP vs Masyarakat?? Not really, karna sebenarnya Satpol PP tu hanya “pion” dari para pengambil kebijakan. Mereka hanya digerakkan para pemangku jabatan untuk melakukan ini..melakukan itu.. bahkan melakukan kekejaman barbar dalam penertiban (kalo tdk mau dibilang penggusuran).

Dirty Works yang ditugaskan untuk sang pamong membuat decision maker bisa menjalankan tugasnya dengan leluasa sebagaimana rencana atau kesepakatan yang sudah dibuat. Kalopun ada protes, ada yang tdk setuju, ada perlawanan, kan pasti larinya ke SATPOL PP, ya kan? Persis sama si gelandang angkut air. Dirty worker yang harus nanggung semua resikonya. Kalo rencana pengambil kebijakan jarang terekspose bgmn kontribusinya, tapi kalo pas ada rusuh, ya musti tanggung jawab!!!!!
Nasib..nasib..

Setelah kejadian Priok Berdarah, satpol PP jadi takut untuk mengenakan seragam dan bertugas. Kesempatan inilah yang menjadi peluang bagi PKL yang biasa kena gusuran rutin si Pamong, dengan leluasa bisa mengambil fungsi ruang yang bukan semestinya.

Ketakutan saya adalah, dengan kejadian Priok, Satpol PP menjadi phobia dan kehilangan wibawa terutama dalam hal penertiban. Oknum yang harusnya ditertibkan jadi berani melawan karena terinspirasi dengan kegigihan warga Priok.

Solusinya?
Satpol PP tidak selalu berkonotasi negatif. Jakarta (dan sekitarnya) yang sangat lemah development controlnya [atau nyaris tidak ada] membutuhkan petugas lapangan yang selalu ricek dengan kondisi empiris. Ini pasti.
Yang pertama, keberadaan Satpol PP perlu di-review terutama terkait Tupoksi, wewenang dan siapa yang mengkomando. Jalur harus jelas agar tdk ada tumpang tindih perintah yang membingungkan.
Kedua, ada baiknya pemerintah membagi tugas yang selama ini diemban satpol PP. Semisal, untuk proses penggusuran. Sebelumnya ada petugas sosialisasi yang intensif dan masive dalam memberi arahan. Petugas yang memiliki pendekatan persuasif dan ahli dalam bidangnya, bukan sekedar petugas pengantar surat. Satpol PP turun jika kondisi sudah sangat “menjengkelkan”.
Ketiga dan yang sedang gencar adalah reformasi sistem secara keseluruhan. Dalam hal penertiban misalnya, PKL liar harusnya tidak ditarik retribusi oleh petugas pajak atau sejenisnya. Ini akan membuat mereka merasa memiliki karena membayar retribusi. Preman juga harus ditertibkan, entah preman berseragam ataupun preman bertato.

Negara ini mencari orang-orang berhati mulia, sulit tapi pasti ada dan bisa.
So, yakinlah Indonesia bisa..

 
Leave a comment

Posted by on 22 April, 2010 in Every-thinks

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: