RSS

Sekolah Anak di Utrecht Belanda

Satu pertanyaan menggelayut kala mengajak anak berpetualang ke Utrecht Belanda. Bagaimana nanti sekolahnya, bagaimana bahasanya dan lain-lain. Justru ini yang saya anggap sebagai peluang agar anak saya lebih punya pengalaman internasional. Berikut langkah kami dalam mensekolahkan anak di Utrecht Belanda

1. Untuk anak usia lebih dari 4 tahun
a. Daftar di Taalschool
Untuk semua anak pendatang baru non Belanda di Utrecht dengan usia minimal 4 tahun, kami harus mendaftarkan diri di Taalschool atau sekolah bahasa. Cek infonya di http://www.taalschoolutrecht.nl/
Buatlah janji via telpon (Call: 030-2944664) atau email administratie@taalschoolutrecht.nl untuk bertemu dan nanti akan diarahkan langkah berikutnya. Karena bersifat sementara, rentang waktu belajar di taalschool adalah 6 bulan sampai 18 bulan, tergantung kesiapan anak.

b. Lanjut ke Basisschool
Setelah dirasa cukup di Taalschool, anak kita akan lanjut ke basisschool. Ini sebenarnya seperti SD kalau di Indonesia, bedanya di sini umur mulai boleh masuk adalah 4 tahun, sedang wajib masuk adalah umur 5 tahun. Sila dicek di website berikut: https://www.scholenopdekaart.nl/basisscholen/zoeken?woonplaats=utrecht&presentatie=1&sortering=2
Ohya, selain itu ada sekolah internasional, yang kalau anda merasa mampu bisa masuk ke sekolah tersebut. Sila cek di http://www.isutrecht.nl/

2. Untuk anak dibawah 4 tahun
Untuk anak di bawah 4 tahun, ada beberapa pilihan yang bisa dilakukan:
a. Masuk ke Kinderopvang
+bisa mulai bayi umur 3 bulan (cmiiw)
+bisa masuk tiap hari
-harga mahal (8-10 Euro per jam)

b. Playgroup Pemerintah
+gratis
-mulai umur 2,5 tahun bahkan sesudahnya, tergantung antrian
-masuk 2 kali seminggu dan hanya beberapa jam saja

More info:
https://www.expatica.com/nl/education/Education-in-the-Netherlands_100816.html

 
Leave a comment

Posted by on 18 December, 2017 in Uncategorized

 

Bikin Visa, Cari Asuransi dan Rumah untuk Ph.D: Pentingnya Peran International Service Desk (ISD) Utrecht University

Banyak yang tanya ke saya mulai dari proses pembuatan visa, mencari asuransi sampai cari rumah untuk yang Ph.D. Percayalah, peran International Service Desk (ISD) sangat vital terutama dalam 3 proses ini, saya akan jelaskan satu per satu:

1. Visa
ISD akan membantu kita dalam menyiapkan dokumen apa saja yang harus disiapkan, menjelaskan apa yang harus diisi dan kapan harus segera diemail. Begitu sudah dikirim via email, kita tinggal nunggu saja balasan dari ISD dan kemudian surat itulah yang akan kita bawa untuk apply ke kedutaan Belanda di Indonesia. Sila cek syarat-syaratnya untuk apply di sini: https://www.belandadananda.nl/perjalanan-menetap/visa-untuk-belanda/izin-tinggal-sementara-visa-untuk-tinggal-waktu-lama/indonesia

2. Asuransi
Tanyakan ke ISD, asuransi apa yang pas untuk kondisi masing-masing. Biasanya UU juga punya program kerjasama dengan asuransi tertentu sehingga harganya lebih murah. Selain itu, untuk fasilitas dan apa saja cover asuransi, anda bisa cek di website berikut: https://www.zorgwijzer.nl/zorgvergelijker/english#/search
Asuransi untuk anak dibawah 18 tahun gratis, ikut salah satu ibu atau ayahnya.

3. Rumah
ISD juga bisa membuatkan akun khusus untuk apply rumah di SSH. Bahkan, ISD punya kontak beberapa makelaar dan landlord nya langsung. Kalau butuh info lebih lanjut, bisa klik ini: https://iwansuharyanto.wordpress.com/2017/12/18/mencari-rumah-untuk-yang-ph-d-dan-berkeluarga-di-utrecht-belanda/

4. Sesampainya di Utrecht
Bahkan jika Ph.D sudah datang ke Utrecht, biasanya nanti akan ada jam janjian dengan ISD untuk dijelaskan lebih lanjut tentang Utrecht dan seluk beluknya. Setelah itu akan dibuatkan janji dengan Gemeente untuk pergantian visa MVV menjadi (temporary) residence permit.

Berkomunikasi dengan ISD memang harus sabar dan telaten karena mereka juga punya jadwal dan jam kerja serta tidak hanya khusus menangani satu orang. Setidaknya selalu kontak jika ada pertanyaan dan jangan lupa pas sudah ketemu, bawakan oleh-oleh khas Indonesia, mereka pasti suka! hahahaha..

 
Leave a comment

Posted by on 18 December, 2017 in Uncategorized

 

Mencari rumah untuk yang Ph.D dan berkeluarga di Utrecht, Belanda.

 

Percayalah, mencari rumah di Utrecht itu tidak sulit, tetapi sangat sulit sekali! Itu kalimat pertama sebagai pembuka postingan kali ini. Setelah itu saya akan ceritakan pengalaman saya.

Awalnya saya beranggapan akan mudah. Ternyata, coba kontak sana sini, terutama warga Indonesia, susahnya setengah mati. Dugaan saya sampai saat ini karena tingginya demand di Utrecht (posisi Utrecht di tengah-tengah dan karena adanya kampus UU) sementara supplynya belum benar-benar mencukupi. Pengembangan kota baru ke Lidsche Rijn sedang dilakukan jadi mungkin someday this problem will be solved! PROBABLY!

1.Kenali Kondisi dulu
kondisi saya: rencana berangkat bareng istri dan 2 anak

Kembali ke topik, hampir semua orang Indonesia saya hubungi, dari Mas Luluk, Kang Andi dll., termasuk sampai minta bantuan PPIU dan bahkan Pak Atdikbud. Apa gak kurang ajar tuh! Bahkan hampir setiap sore saya menelpon beberapa Makelaar (sebutan untuk agen yang membantu mencari rumah) untuk mendapatkan kontaknya. Ternyata semua itu tetap susah karena posisi saya di Indonesia dan banyak makelar meminta saya untuk melihat rumahnya langsung. Via facebook pun sama, bahkan ada yang sudah pernah saya mintain tolong untuk viewing dari facebook yang hasilnya: rumah tersebut tidak pas untuk keluarga. Mengapa? Karena dengan 1 istri dan 2 anak, minimal saya harus tinggal di rumah dengan 2 kamar, bukan tipe studio atau bahkan tipe yang hanya menyewakan kamar saja dan berbagi fasilitas lain, seperti dapur dan kamar mandi. Alhasil, kesepakatan dengan istri pun dilakukan. Jika sampai hari H minus 15 hari tidak dapat tempat tinggal ya saya berangkat sendiri dulu.

2. Datang dulu baru cari rumah!

Cara lain yang saya lakukan dan berhasil adalah via SSH (Short Stay Housing) salah satu penyedia kamar / rumah di Utrecht . Jadi awalnya saya minta International Service Desk UU untuk dibuatkan akun SSH, nanti kita dapat akun khusus tamu, dan nanti tinggal apply yang mana yang sesuai. Akhirnya ada kabar baik dari SSH karena ada 1 rumah SSH yang kosong pada bulan kedatangan kami. Harganya cukup mahal, 1300 Euro per bulan tetapi semua inclusive, jadi tidak perlu bayar apapun. Strateginya adalah kami ambil dulu sambil nanti cari rumah. Ini yang kedua yang saya lakukan, karena kelihatannya tidak ada pilihan lain.

3.Strategi cari rumah

Setelah di sini sudah settle, kami mulai cari rumah yang pas, cara yang kami lakukan adalah:

a. Identifikasi Preferensi
Waktu itu, saya dan istri saya bersepakat bahwa yang kami butuhkan adalah rumah dengan minimal 2 kamar tidur (hati-hati dengan istilah kamar, karena di Belanda lazim mengenali kamar tamu sebagai kamar). Kami juga menentukan area yang dekat dengan sekolah anak-anak yakni di Aboedaoed dan juga dengan rentang harga 1000 Euro. Selain itu, istri saya juga membutuhkan bersosialisasi dengan orang-orang Indonesia yang lain yang kebanyakan tinggal di Overvecht. Akhirnya kami memutuskan area pencarian kami di sekitar Overvecht dan Oendip.

b. Beragam Cara mendapat Rumah

Via website:
Hampir setiap hari kami selalu memantau 3 website: http://rooftrack.nl/, http://pararius.com dan http://funda.nl. Begitu ada iklan yang baru tampil, kami langsung telpon dan meminta viewing. Selain 2 website itu, kami juga mendaftarkan diri di ikwilhuren.nl. Beberapa teman ada juga yang mendapatkan rumah via http://www.marktplats.nl

Via makelaar:
Kami juga kontak makelaar untuk meninggalkan semacam persyaratan yang mereka butuhkan. Biasanya mereka meminta syarat 2 atau 3 atau 4 kali lipat pendapatan dari harga sewa rumah. Syarat lain standar, semacam mengisi formulir, BSN, data diri, dll.

c. Tantangan Mendapatkan Rumah

Beberapa tantangan yang kami hadapi adalah sebagai berikut:
(i). Makelaar susah berbahasa Inggris.
(ii) Ikan seempang rebutan makan secuil. Pernah kami viewing dan sangat sreg dengan harga dan lain-lain, tetapi lebih dari 15 orang yang viewing.
(iii) Pendapatan bukan di Belanda. Saya pernah viewing dan ditolak dengan alasan karena dapat beasiswanya dari Indonesia. Sementara yang mereka inginkan adalah mereka yang memiliki pendapatan dari Belanda (perusahaan atau whatever lah), yang mereka bisa pantau tiap bulannya dan membayar pajak Belanda.

d. Selalu hati-hati dengan penipuan

Ini poin yang harusnya masuk ke bagian tantangan tetapi saya pisah karena urgensinya. Alkisah pernah ada yang bahkan sudah viewing rumahnya, tetapi yang empunya rumah beralasan bahwa kuncinya masih dibawa sama yang lama sedang internship di Afrika, sehingga hanya bisa lihat dari luar. Dan kemudian dibayar dan kemudian tertipu. Intinya harus hati-hati.

Beberapa website lain yang membahas rumah antara lain:

1. https://www.hotcourses.co.id/study-abroad-info/student-accommodation/kuliah-di-luar-
2. https://www.iamexpat.nl/housing/netherlands-rentals
3. http://didiksetiawands.blogspot.nl/2015/03/tips-dan-trik-cari-rumah-di-belanda.html

 
Leave a comment

Posted by on 18 December, 2017 in Uncategorized

 

Boyolali: Ironi tanpa Henti

Selentingan kabar di berbagai grup whatsApp yang menceritakan bakal dibangunnya wahana permainan kelas dunia kemudian menjadi viral yang bahkan sampai harus dibantah langsung oleh pemilik brand tersebut. Meski isunya kemudian diralat menjadi “mirip” kelas dunia, tetapi apa lacur, berita tersebut membuat mulut Indonesia langsung membicarakan Boyolali. Sebagian besar akun di grup whatsApp saya menyatakan mendukung dan penasaran dengan ide tersebut dengan alasan keekonomian seperti mendorong lapangan kerja lokal dan meningkatkan pendapatan daerah meski juga ada yang beralasan daripada jalan ke luar negeri.

Boleh jadi, visi sang kepala daerah yang pro investasi melatar belakangi hal ini. Pembangunan Boyolali dengan berbagai landmark yang megah dimulai dengan pembangunan kompleks kantor pemerintahan, pembangunan simpang lima dan patung kuda, serta patung-patung yang lain, pembangunan kawasan pariwisata di beberapa titik belum ditambah dengan rencana kawasan industri yang akan menggandeng investor asing. Hal ini tidak lebih dari sekedar ironi karena ibarat memiliki anak perempuan yang cantik, anggun dan khas Indonesia seperti Dian Sastro, tetapi didandanin pake make-up yang berlebihan bak Britney Spears. Intinya: tidak sesuai karakter.

Boyolali adalah sebuah kabupaten, bukan kota. Pengelolaan yang ada saat ini seperti menempa Boyolali sebagai sebuah kota bukan kabupaten. Pembangunan yang dilakukan seperti beberapa contoh di atas seperti landmark patung, kompleks kantor pemerintahan, alun-alun, simpang lima, adalah pembangunan skala kota yang bertumpu pada beaautification bukan infrastruktur dasar. Masih ada saja di tahun 2017 ada kasus jalan rusak dan di tahun 2015 ada yang kekeringan . Selayaknya kabupaten, masalah infrastruktur dasar inilah yang seharusnya menjadi prioritas daripada membangun patung kuda di tengah kota.

Alasan di atas di bantah dengan adanya pemerataan pembangunan di segala penjuru Boyolali seperti kawasan pariwisata di bagian barat dan industri di bagian timur dengan tujuan agar sesegera mungkin menyerap lapangan kerja karena menurut laporan Bappenas ada di <a href="http://“>kuadran 3 Lgi-lagi hal ini seolah menjadi ironi seorang orang tua yang ingin anaknya dewasa secara instan. Boyolali adalah sebuah kabupaten pertanian dengan anugerah kesuburan dari Merapi dan melimpahnya air di beberapa titik. Fakta yang ditutupi ini seolah menjadi pembenaran untuk sesegera mungkin meningkatkan pendapatan apapun caranya. Memang, akselerasi kehidupan di bidang pertanian tidak semudah dan secepat dari industri apalagi jika kita melihat tren nasional dan tren gaya hidup kekinian. Namun, bukan berarti Boyolali tidak bisa hidup dan berkembang dari pertanian. Mengacu pada Thailand dengan memperkuat research and development sudah sewajarnya sektor pertanian menjadi kunci Boyolali untuk berkembang sesuai karakternya.

–bersambung dan semoga ada sambungannya–

 
Leave a comment

Posted by on 3 May, 2017 in Uncategorized

 

Dari Jerman ke Belanda: “Mimpine Wong Ndeso”

Tema “wong ndeso” yang bisa dan sukses dalam mewujudkan mimpinya mungkin sudah banyak didengar di telinga dan di baca di manapun, terlebih dengan mulainya euforia Pak Jokowi, wong ndeso yang jadi RI-1. Saya hanya akan menambahkan satu cerita saja, bukan cerita sukses, tetapi lebih pada “bagaimana bisa”, karena kalau ukurannya sukses, milestone-nya pasti akan lain.

Semua pasti berawal dari mimpi, banyak doa dari Ibu, dan dengan sedikit kebetulan.

Mimpi saya sejak kecil sangat sederhana, bahkan mungkin sering dijadikan bahan bercandaan. Bagaimana tidak, ketika yang lain ingin menjadi dokter seperti dokter Thomas (dokter yang sangat terkenal dan menjadi rujukan hampir semua orang di Boyolali), atau menjadi insiyur seperti kebanyakan generasi akhir 80an dan awal 90an, dari kecil saya hanya ingin menjadi pemandu wisata. Bertemu dengan orang-orang baru, belajar budaya dan bahasa, serta tentu saja bertukar ilmu adalah beberapa hal yang menjadi idaman bocah kurus kerempeng itu. Makanya saya selalu bersemangat ketika belajar bahasa Inggris, sekedar maju ke depan kelas, atau rela ikut les tambahan bahasa Inggris, meski perempuan cinta pertama saya (yang gak kesampean) gak pernah ikut les itu. Semua demi menjadi pemandu wisata! Simpel tapi bermakna banyak.

Doa Ibu adalah hal kedua yang sampai sekarang masih saya pegang teguh meski sudah beranak dua dan beristri satu (awas jangan kebalik!!!). Setiap ada hal penting, semisal tes, ujian, atau apapun itu, saya selalu sempatkan untuk sekedar menelpon Ibu untuk memohon restunya. Meski hampir setiap kali saya menelpon, ucapan balasan dari ujung sebelah telpon pasti kurang lebih sama, mendoakan sukses dan lancar dan seterusnya, tapi saya usahakan untuk tidak bosan mendengarkan. Classic but it’s work!! (at least for me).

Yang ketiga adalah kebetulan, saya selalu memaknai kebetulan di saat rencana yang sudah disiapkan kemudian berubah atau bahkan berbeda. Seperti ketika saya kelas 2 SMA dan diminta memilih jurusan untuk kelas 3 SMA, saya memilih jurusan bahasa, namun apa lacur, guru wali kelas meminta untuk memilih IPA karena ada kemungkinan kelas bahasa ditiadakan. Pun begitu ketika memilih jurusan kuliah. Karena sudah terlanjur IPA, oleh kakak diminta mengambil jurusan Planologi saja, suka jalan-jalan dan pinter ngomong kan?, begitu seru kakak saya. Ketika sudah lulus pun, kebetulan ada lowongan dosen dan kemudian karena calon dosen cowok yang menjadi kandidat kuat justrumemilih mengundurkan diri, saya akhirnya jadi dosen (mungkin karena tinggal saya satu-satunya pilihan cowok dan tidak ada pilihan lain?). Semua  kebetulan-kebetulan itu mewarnai hidup saya yang telah berumur lebih dari tiga puluh tahun ini (sengaja tidak ditulis angka agar me-muda-kan tingkat kepercayaan diri umur saya).

Tiga kombinasi itulah yang sampai saat ini membawa saya, wong ndeso dari Boyolali, yang bahkan bapaknya hanya lulusan PGAA (Pendidikan Guru Agama Atas, setingkat SMA), ibunya hanya lulusan SMP, yang bener bener culun (mungkin sampai saat ini), alhamdulillah pernah merasakan S2 di TU Berlin, Jerman dan saat ini baru menginjak 1 bulan S3 di Utrecht University, Belanda.

Fabiayyi aala’i rabbikuma tukazziban..

 

Utrecht, 10 Oktober 2016

 
1 Comment

Posted by on 10 October, 2016 in Uncategorized

 

Mati suri

Ternyata saya masih punya blog, masih ingat passwordnya, dan yang lebih membuat saya bangga, ada yang masih membaca! Alhamdulillah…

Ya, beberapa waktu belakangan ini saya terlibat dalam sebuah penelitian dengan litbang yang ada di Yogyakarta. Awal mula perkenalan dengan ‘komunitas’ baru ini juga karena andil salah satu profesor di tempat saya mengabdi. Naaa… salah satu peneliti di litbang tersebut ternyata ada yang kreatif (atau kepo?) menelusuri dan membaca blog ini… wkwkwkwk

Bangga sekaligus malu, karena si peneliti itu juga membaca ‘sisi lain’ keromantisan saya di blog ini.. hahahaha..

Ya, sudahlah. Semoga tulisan ini menarik ruh menulis saya di blog yang sudah lama saya tinggalkan. 🙂

 

Nuwun!

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on 24 March, 2014 in Every-thinks

 

Lebih Percaya Anonim?

Setiap malam menjelang tidur (atau pagi WIB), saya selalu menyempatkan membaca tweetnya @triomacan2000 atau akun2 anonim yang lain seperti @kusumaputri, @partaisocmed dan beberapa akun anonim yang lain.

Dulu saya sempat memfollow si cacan, tp selang beberapa waktu akhirnya unfoll. Selain karena keseringan membanjiri TL, pd waktu itu si cacan lagi twittwar sama arya sinulingga kalo gak salah. Logika saya lebih condong membenarkan kepada si arya ini. Ahh, jadi lupa detailnya gara2 apaaaaa..

Anyhow, walau tidak following lg, setelah itu sesekali saya masih membuka tweet atau chirpstory-nya. Akhir2 ini, semenjak AAM tersangka dan adanya konflik SBY vs Anas, hampir tiap mau tidur selalu ada yang kurang kalau belum buka tweetnya cacan atau yg lain.

Ah, sering saya mengetawai diri sendiri, ini kan akun jelas anonim, antah berantah, gak jelas siapa identitasnya walau di bio-nya lengkap. Tetapi logika saya selalu berontak kalau apa yang cacan katakan masuk akal dan logika, seperti bagaimana mafia minyak atau kenapa Anas dibegitukan. Terlebih dulu cacan pernah menceritakan boroknya PKS, yang baru2 saja terbukti kebenarannya… Makin masuk di logika aja.. Kadang saya juga berpikir, kalau memang apa yang macan katakan benar, berarti memang negara kita sudah sedemikian parahnya ya?

Kadang juga mikir, kalau si macan atau akun anonim lainnya TIDAK memakai nama samaran apakah kepercayaan publik twitter (termasuk saya) akan tinggi??

Ahhh… Biarlah logika mengalir liar… Sepertinya memang konspirasi dibutuhkan untuk melengapi nafas dunia… AKhirnya, mengutip akun (saya lupa!) yang pernah bilang gini kurang lebihnya:
“Indonesia memang tidak selalu seindah apa yang ditweetkan @GNFI tetapi juga tidak selalu seburuk apa yang ditweetkan @TrioMacan2000” hehehe..

.cacan

 
Leave a comment

Posted by on 11 February, 2013 in Every-thinks