RSS

Dari Jerman ke Belanda: “Mimpine Wong Ndeso”

Tema “wong ndeso” yang bisa dan sukses dalam mewujudkan mimpinya mungkin sudah banyak didengar di telinga dan di baca di manapun, terlebih dengan mulainya euforia Pak Jokowi, wong ndeso yang jadi RI-1. Saya hanya akan menambahkan satu cerita saja, bukan cerita sukses, tetapi lebih pada “bagaimana bisa”, karena kalau ukurannya sukses, milestone-nya pasti akan lain.

Semua pasti berawal dari mimpi, banyak doa dari Ibu, dan dengan sedikit kebetulan.

Mimpi saya sejak kecil sangat sederhana, bahkan mungkin sering dijadikan bahan bercandaan. Bagaimana tidak, ketika yang lain ingin menjadi dokter seperti dokter Thomas (dokter yang sangat terkenal dan menjadi rujukan hampir semua orang di Boyolali), atau menjadi insiyur seperti kebanyakan generasi akhir 80an dan awal 90an, dari kecil saya hanya ingin menjadi pemandu wisata. Bertemu dengan orang-orang baru, belajar budaya dan bahasa, serta tentu saja bertukar ilmu adalah beberapa hal yang menjadi idaman bocah kurus kerempeng itu. Makanya saya selalu bersemangat ketika belajar bahasa Inggris, sekedar maju ke depan kelas, atau rela ikut les tambahan bahasa Inggris, meski perempuan cinta pertama saya (yang gak kesampean) gak pernah ikut les itu. Semua demi menjadi pemandu wisata! Simpel tapi bermakna banyak.

Doa Ibu adalah hal kedua yang sampai sekarang masih saya pegang teguh meski sudah beranak dua dan beristri satu (awas jangan kebalik!!!). Setiap ada hal penting, semisal tes, ujian, atau apapun itu, saya selalu sempatkan untuk sekedar menelpon Ibu untuk memohon restunya. Meski hampir setiap kali saya menelpon, ucapan balasan dari ujung sebelah telpon pasti kurang lebih sama, mendoakan sukses dan lancar dan seterusnya, tapi saya usahakan untuk tidak bosan mendengarkan. Classic but it’s work!! (at least for me).

Yang ketiga adalah kebetulan, saya selalu memaknai kebetulan di saat rencana yang sudah disiapkan kemudian berubah atau bahkan berbeda. Seperti ketika saya kelas 2 SMA dan diminta memilih jurusan untuk kelas 3 SMA, saya memilih jurusan bahasa, namun apa lacur, guru wali kelas meminta untuk memilih IPA karena ada kemungkinan kelas bahasa ditiadakan. Pun begitu ketika memilih jurusan kuliah. Karena sudah terlanjur IPA, oleh kakak diminta mengambil jurusan Planologi saja, suka jalan-jalan dan pinter ngomong kan?, begitu seru kakak saya. Ketika sudah lulus pun, kebetulan ada lowongan dosen dan kemudian karena calon dosen cowok yang menjadi kandidat kuat justrumemilih mengundurkan diri, saya akhirnya jadi dosen (mungkin karena tinggal saya satu-satunya pilihan cowok dan tidak ada pilihan lain?). Semua  kebetulan-kebetulan itu mewarnai hidup saya yang telah berumur lebih dari tiga puluh tahun ini (sengaja tidak ditulis angka agar me-muda-kan tingkat kepercayaan diri umur saya).

Tiga kombinasi itulah yang sampai saat ini membawa saya, wong ndeso dari Boyolali, yang bahkan bapaknya hanya lulusan PGAA (Pendidikan Guru Agama Atas, setingkat SMA), ibunya hanya lulusan SMP, yang bener bener culun (mungkin sampai saat ini), alhamdulillah pernah merasakan S2 di TU Berlin, Jerman dan saat ini baru menginjak 1 bulan S3 di Utrecht University, Belanda.

Fabiayyi aala’i rabbikuma tukazziban..

 

Utrecht, 10 Oktober 2016

 
1 Comment

Posted by on 10 October, 2016 in Uncategorized

 

Mati suri

Ternyata saya masih punya blog, masih ingat passwordnya, dan yang lebih membuat saya bangga, ada yang masih membaca! Alhamdulillah…

Ya, beberapa waktu belakangan ini saya terlibat dalam sebuah penelitian dengan litbang yang ada di Yogyakarta. Awal mula perkenalan dengan ‘komunitas’ baru ini juga karena andil salah satu profesor di tempat saya mengabdi. Naaa… salah satu peneliti di litbang tersebut ternyata ada yang kreatif (atau kepo?) menelusuri dan membaca blog ini… wkwkwkwk

Bangga sekaligus malu, karena si peneliti itu juga membaca ‘sisi lain’ keromantisan saya di blog ini.. hahahaha..

Ya, sudahlah. Semoga tulisan ini menarik ruh menulis saya di blog yang sudah lama saya tinggalkan.🙂

 

Nuwun!

 

 

 

 
Leave a comment

Posted by on 24 March, 2014 in Every-thinks

 

Lebih Percaya Anonim?

Setiap malam menjelang tidur (atau pagi WIB), saya selalu menyempatkan membaca tweetnya @triomacan2000 atau akun2 anonim yang lain seperti @kusumaputri, @partaisocmed dan beberapa akun anonim yang lain.

Dulu saya sempat memfollow si cacan, tp selang beberapa waktu akhirnya unfoll. Selain karena keseringan membanjiri TL, pd waktu itu si cacan lagi twittwar sama arya sinulingga kalo gak salah. Logika saya lebih condong membenarkan kepada si arya ini. Ahh, jadi lupa detailnya gara2 apaaaaa..

Anyhow, walau tidak following lg, setelah itu sesekali saya masih membuka tweet atau chirpstory-nya. Akhir2 ini, semenjak AAM tersangka dan adanya konflik SBY vs Anas, hampir tiap mau tidur selalu ada yang kurang kalau belum buka tweetnya cacan atau yg lain.

Ah, sering saya mengetawai diri sendiri, ini kan akun jelas anonim, antah berantah, gak jelas siapa identitasnya walau di bio-nya lengkap. Tetapi logika saya selalu berontak kalau apa yang cacan katakan masuk akal dan logika, seperti bagaimana mafia minyak atau kenapa Anas dibegitukan. Terlebih dulu cacan pernah menceritakan boroknya PKS, yang baru2 saja terbukti kebenarannya… Makin masuk di logika aja.. Kadang saya juga berpikir, kalau memang apa yang macan katakan benar, berarti memang negara kita sudah sedemikian parahnya ya?

Kadang juga mikir, kalau si macan atau akun anonim lainnya TIDAK memakai nama samaran apakah kepercayaan publik twitter (termasuk saya) akan tinggi??

Ahhh… Biarlah logika mengalir liar… Sepertinya memang konspirasi dibutuhkan untuk melengapi nafas dunia… AKhirnya, mengutip akun (saya lupa!) yang pernah bilang gini kurang lebihnya:
“Indonesia memang tidak selalu seindah apa yang ditweetkan @GNFI tetapi juga tidak selalu seburuk apa yang ditweetkan @TrioMacan2000” hehehe..

.cacan

 
Leave a comment

Posted by on 11 February, 2013 in Every-thinks

 

Apa Kabarrr…

Kabar baik…

 
Leave a comment

Posted by on 1 February, 2013 in Uncategorized

 

Internship 2.0: Combine, SID dan minggu pertama (02)

Selasa, 28 Februari 2012
Berbekal ingatan hasil searching di google maps, ternyata tidak susah menemukan kantor Combine Resource Institution yang lokasinya di belakang Pasar Niten baru. Inilah hari pertama petulangan internship saya dimulai. Sesuai hasil surat menyurat email dengan Mas Joyo, coordinator program SID, hari ini jam 10 pagi adalah hari pertama saya memulai internship. Tepat jam 10 pagi sampai pukul 1 siang, beliau menjelaskan beberapa informasi tentang Combine dan SID, sambil diselingi diskusin antara kami. Beberapa informasi yang ada di catatan saya adalah sebagai berikut.
1. Combine merupakan program dibawah SMERU pada tahun 1999, sebelum menjadi institusi penguatan kapasitas sampai sekarang, yang dikenal dengan istilah CRI = Combine Resource Institution. Ada 4 pilar yang dimiliki Combine yakni:
a. pilar komunikasi, contoh program yakni suarakomunitas.net, Jalin Merapi dan Tikus Darat
b. pilar ekonomi, program Pasar Komunitas (pasartani.combine.or.id)
c. pilar kapasitas akar rumput, program Lumbung Daya dan Lumbung Komunitas
d. pilar yang tidak ada dalam catatan saya (maaf lupa… )

2. Asal mula SID pada awalnya dimulai semenjak tahun 2004 dan 2005. Contoh yang menjadi tolok ukur adalah Sekolah Alternatif Qoryah Tayyibah Salatiga Baharuddin (sppqt.or.id). Jangan menilik dari namanya, karena ini adalah sebuah perkumpulan kelompok tani yang merupakan sebuah ‘collective action’ dari para anggotanya untuk memetakan keahlian.

3. Lumbung Daya dan Lumbung Komunitas merupakan dua program yang menjadi awal mula sebelum adanya program SID, dimulai dengan diskusi pada 2006 yang menjadi intensif semenjak 2008. Diskusi yang melibatkan Desa Terong, Bantul dan Desa Balerante, Klaten mendapatkan suatu kesimpulan bahwa dibutuhkannya manajemen data dan informasi yang efektif dan efisien dalam pemerintahan desa, terlebih selama ini desa hanya sebagai pos pengumpulan data saja, desa tidak memiliki hak otonom dalam pengelolaan data. COntoh mudahnya dalam pembuatan KTP dimana desa hanya membuatkan surat untuk dibuat di kecamatan. Hasil diskusi tersebut masih menimbulkan beberapa pertanyaan seperti:
– Siapa kelompok sasaran dalam system informasi tersebut?
– Bagaimana menegelola jumlah komunitas di desa yang banyak?
– SID dikelola pemdes??
– Keakuratan dan peng-update-an data?
– Hubungan SID dan profil desa?? (profil desa adalah 84 indikator database desa yang harus di’setor’kan oleh Pemdes tiap tahunnya kepada Kecamatan dan Kabupaten)

4. Meninggalkan sejumlah tandantanya sebagai tantangan yang harus dipecahkan, pada 2009 inisiasi SID dimulai di Balerante dan Terong, dimana pada 2010 SID versi 1.0 resmi diluncurkan. Pada awalnya SID merupakan basis data kependudukan yang mana target besarnya nanti adalah basis data yang berdasar pada pengelolaan sumber daya komunitas sebagai dasar pengambilan keputusan.

5. Saat ini sudah beberapa desa menerapkan SID 2.0 dimana contoh yang sukses adalah di terong-bantul.web.id. Penekanan yang dilakukan oleh SID adalah bahwasanya online bukan merupakan target utama atau prioritas dari program ini. Penekanan yang utama justru pada update data, sustainability, keakuratan dan strategi yang konvergen.

Comments:
1. Awalnya saya sendiri agak ‘pesimis’ dengan keberadaan database dengan menggunakan pola system informasi (entah online atau offline) yang ada di tingkatan desa. Memang benar kalau desa itu cikal bakal pembangunan di Indonesia, bahkan ada sebuah pepatah yang bilang bahwa dengan membangun desa sama artinya dengan membangun Negara. Persepsi saya masih juga meng-under estimate-kan desa, apakah iya mampu? Salah satu pertanyaan besar saya adalah “Bagaimana dengan resource(s) pengelolaannya yang mungkin terbatas kalau ini berada di tingkat desa?” karena ini akan berpengaruh pada keberlanjutan program itu sendiri. Tidak mungkin sebuah program di tingkatan desa didampingi terus menerus oleh sebuah LSM bukan?? Walau saya tidak tahu angka pastinya, tingkat pengetahuan internet dan basis data masyarakat desa ‘mungkin’ lebih rendah dari masyarakat peri-urban dan urban. Saya sendiri pernah 2 bulan KKN di sebuah desa di Wonosobo, yang human resource nya luar biasa, tapi untuk di-instal program seperti ini? Inilah pertanyaan nakal saya yang membuat ketertarikan saya semakin menjadi di internship ini.

2. PErtanyaan saya diatas sedikit terjawab dengan contoh sukses SID di Desa Terong. Aparat desa-nya sudah melek computer, dan SID di desa Terong sendiri merupakan inisiatif dari desanya, bukan dari Combine-nya. Ini mungkin titik balik yang mejadi catatan saya hari ini. Bahwa untuk installment program SID, harus merupakan inisiatif dari desa yang bersangkutan. Combine memang akan menjadi actor utama yang akan membantu, tetapi tetap, inisiatif adalah dari desa. INilah mungkin yang membedakan dengan program-program lain, dimana desa harus meng-agguk-angguk mengikuti kebijakan program, dengan inisiatif asal mula entah dari mana (biasanya sih pemerintah kabupaten atau bahkan pusat!)

3. Titik balik point 2 itulah yang membuat saya berpikir lagi bahwa dengan inisiatif dari desa, mereka sudah menakar dan menilai diri mereka plus kemampuan mereka untuk melaksanakan program ini. Jadi mungkin mereka sudah siap dengan senjata sebelum pergi perang dengan SID. Termasuk mungkin SDM pengelolanya dan bagaimana menjaga keberlanjutannya.

Rabu, Kamis 29 dan 1 Maret 2012
Setelah diskusi yang sangat menarik di hari pertama, 2 hari berikutnya sangat membosankan (jujurrr!!). Saya diberi beberapa literature dan bacaan untuk ditelaah, karena kebetulan Februari akhir adalah hari tutup buku. Mas Koordinator sibuk dengan LPJ dan kwitansi-kwitansinya. Hari rabu bahkan saya sempat pergi ke kampus UGM dulu, sekedar setor muka.. hehe😀
Saya sempat takut kalau ini yang akan terjadi sebulan kedepan, baca literature, browsing dan lain-lain, apalagi ini adalah bulan baru sesudah tutup buku. Biasanya, awal bulan buku adalah awal yang membosankan dan berkutat dengan anggaran. Syukurnya, email dari Mas Joyo di Kamis sore menghapus semuanya. Email tersebut berisi ajakan untuk mengikuti pertemuan MPM di Wirobrajan Jumat jam 9 dan diskusi dengan IDEA jam 13. Tanpa tahu apa itu MPM dan IDEA, wajah saya berseri sore itu. 

Comments:
1. Meski hanya studi literature dan browsing, beberapa hal sempat saya cari, misalnya mencari bagaimana keberadaan data yang akurat dan ter-update mampu menjadi instrument penting dalam pengambilan keputusan (yang ternya agak ruwet karena menggunakan analisis AHP dan teman-temannya). Referensi saya juga bertambah dengan membaca system desa-kotanya Mbah Terry McGee meski dulu sudah dijelaskan waktu S1.

2. Saya juga sempat merasa agak aneh dengan SID yang dimiliki beberapa desa sasaran program, karena terlihat jelas kesuksesan desa Terong dibanding desa lainnya, terutama dari segi kelengkapan dan update data. (walau waktu membaca komen yang ditinggalkan pengunjung di Desa Terong mempertanyakan ‘kok datanya jarang di-update’)

Jumat 2 Maret 2012
INi adalah hari saya mendapat banyak ilmu. Mengapa? Oke, saya jelaskan per agenda, mulai dari agenda pertama: MPM dan kedua: diskusi dengan IDea

1. Masyarakat Peduli Media (MPM)
Sampai saat ini ditulis, saya masih belum tau apa itu MPM (yang awalnya saya kira berafiliasi sama Muhammadiyah), dan saya malas mencari tau dengan google. Yang saya tau pada pagi itu, markasnya MPM digunakan untuk diskusi tentang UU Keterbukaan Informasi Publik yang belum berjalan di Yogyakarta. Di Jogja sendiri sesuai amanat UU tersebut telah terbentuk Komisi Informasi Publik DIY semenjak September 2011. Komisi ini menengahi bila ada sengketa keterbukaan informasi. Ambil contoh misal X wali murid di SD pqrs meminta pihak sekolah mengeluarkan informasi bagaimana cara menilai siswa yang boleh dan tidak boleh masuk di sekolahnya, tetapi si pihak sekolah tidak memenuhi permintaan tersebut, sehingga dibawalah masalah ini ke komisi tersebut untuk dipecahkan bersama. Nah, apa yang terjadi di Jogja adalah semenjak komisi tsb terbentuk, belum ada satupun aduan masyarakat yang bisa ditindaklanjuti. Beberapa indikasi mengapa aduan tersebut masih NOL adalah:
– Budaya ewuh pakewuh, kekerabatan dan lain lain yang ada di Jogja, terutama untuk mengadukan
– Ketidaktahuan masyarakat tentang UU ini
– MEmang tidak ada masalah! 

Nah, diskusi yang dimulai semenjak jam 10 sampai jam 12 ini membahas masalah tersebut dan bagaimana solusinya. Diskusi sendiri dihadiri oleh beberapa LSM dan aktivis-aktivis lainnya menyimpulkan bahwa:
a. Perlu adanya ‘pendidikan’ kepada masyarakat, bukan hanya sosialisasi tetapi juga contoh nyata, salah satunya dengan menerapkan UU KIP diantara peserta yang hadir.
b. Adanya tema-tema tertentu yang akan dikawal oleh para peserta, contohnya:
– Tema transportasi: pengelolaan bus TransJogja, retribusi Parkir
– Tema planning: rencana Kridosono, rencana Malioboro
– Tema kesehatan: manajeman askes untuk warga miskin

Comments:
Sebenarnya saat diskusi inilah mata saya terbuka, bagaimana posisi dan keberadaan LSM ternyata cukup penting dalam pengelolaan kota, terkait dengan akuntabilitas dan transparansi. Selama ini, kalau ikut proyek tata ruang, saya menganggap bahwa ada saatnya nanti diseminasi atau sosialisasi kepada masyarakat, terkait rencana yang sudah disusun, itupun kalau dananya masih ada dari konsultan. Dengan mengikuti diskusi ini, saya merasa bahwa masih banyak informasi yang ditutup oleh planner kepada masyarakat, bagi saya sendiri terkadang agar pembuatan rencana “tidak terganggu” oleh suara-suara vocal masyarakat.

2. Siang: Diskusi dengan IDEA
Setelah jumatan, diskusi dilanjutkan di Raminten, Kota Baru, semacam tempat makan asik yang baru pertama kali itu juga saya datangi. Topik kali ini cenderung kepada tema internship saya tentang SID. Ternyata dalam implementasinya di Gunung Kidul, SID yang dibangun oleh Combine juga bekerjasama dengan IDEA, sebuah LSM yang bergerak dalam pengentasan kemiskinan. Mengapa? Ya karena topic SID yang di Gunung Kidul memang untuk pengentasan kemiskinan.

Diskusi sembari makan siang tersebut, membahas tentang progress dan rencana SID di Gunung Kidul, terutama persiapan dalam 2 minggu ke depan yang akan mendapatkan kunjungan dari Jakarta dan dari Menkokesra. Meski diskusi cenderung kepada persiapan desa tsb sebagai kunjungan, tetapi juga dibahas beberapa isu tentang SID di Gunung Kidul, terutama bagaimana sinkronisasi SID dengan Profil Desa dan bagaimana SID mampu menampung indicator kemiskinan yang berbeda-beda antar instansi (setidaknya ada 4 instansi yang memiliki indicator kemiskinan).
Comments:
Yak, inilah yang benar-benar menghapus ketakutanku kalo kalo internshipku kali ini bakal dibalik meja saja. Hehe..  Dengan ngikuti proses SID di Gunung Kidul, aku bisa menjawab pertanyaanku sendiri tentang seberapa mampukah dan sebera sustainkah nanti SID ini di implementasinya.

Next Agenda:
Senin: Diskusi internal di Combine untuk persiapan kunjungan
Selasa: Diskusi dengan IDEA
Rabu-Sabtu: ke Gunung Kidul!

 
Leave a comment

Posted by on 5 March, 2012 in Uncategorized

 

Internship 2.0: Apa, Mengapa, Dimana (01)

Di perkuliahan saya, ada mata kuliah internship (2 ECTS) yang mewajibkan mahasiswa untuk melaksanakan program tersebut dimanapun tujuan mahasiswa tsb. Pengelola program studi dari awal perkuliahan memperkenalkan internship salah satunya dengan tujuan sebagai penjembatan mahasiswa untuk mencari topic dan data thesis. Oleh karena itu, ketua program studi saya tidak terlalu membebani mahasiswa tentang lokus, berapa lama, dan apa yang akan dikerjakan, bahkan untuk pertanggungjawabannya hanya diminta menulis laporan ‘setebal’ 3 lembar saja!! Saya sendiri sempat berpikir bahwa inilah bedanya internship S1 dulu dengan S2 sekarang, dimana mahasiswa S2 mungkin cenderung lebih bertanggungjawab dan lebih dipercaya, jadi ya terserah si mahasiswanya.
Flashback sebentar ketika S1 dulu, saya internship atau istilahnya kerja praktek (KP) di program pengentasan kemiskinan PNPM-P2KP. Dengan beban 3 sks, ada batasan waktu yang diwajibkan dari program studi saya, termasuk pembimbingan dan laporan dengan dosen yang telah ditunjuk. Saya melakukan Kegiatan KP dengan terlibat langsung dalam tim yang mendampingi masyarakat 6 kelurahan untuk implementasi program PNPM P2KP selama kurang lebih 5 bulan. Banyak pengalaman yang saya dapatkan karena itu adalah untuk pertama kalinya saya terjun berdampingan dengan masyarakat, terutama masyarakat kota yang dalam mindset saya, meski hanya di Yogyakarta tetapi telah menjadi kaum urban dengan dinamika yang penuh tantangan. Ketertarikan saya pada social planning ini lebih dalam kemudian membuat skripsi saya juga bertema yang sama.

Kembali ke tema internship kuliah saya yang sekarang, kebebasan yang diberikan ternyata tidak semudah pelaksanaannya. Banyak riset-riset dan pekerjaan internship yang mensyaratkan kemahiran bahasa jerman cas cis cus, sesuatu hal yang juga diingatkan oleh ketua program studi saya. Ketua program studi saya juga menyarankan untuk pulang kampung saja untuk melaksanakan internship, bagi yang kesusahan dengan syarat ini. Bagi saya pribadi ini seolah ‘pembenaran’ sekaligus peluang untuk benar-benar pulang kampung dan menjenguk buah hati tercinta. hehe🙂

Dengan keterikatan lokus yang ‘sebaiknya’ di Jogja, membuat kepala sempat berkerut juga. Sepertinya tidak mungkin saya internship di instansi kepemerintahan sementara saya belum tau topic thesis saya akan seperti apa. Berbeda misalnya bila saya sudah tahu topic saya, misalnya topic pertanahan Sleman, mungkin bisa di BPPD atau BPN Sleman. Tanpa tau topic yang akan saya dalami, saya putuskan untuk kemudian melakukan internship dimana saya bisa belajar dengan lebih optimal.

Awalnya, saya putuskan untuk ke lembaga yang ada kaitannya dengan Jerman, GIZ, karena selain saya kuliah disini, sepengetahuan searching ‘mbah’ google, GIZ juga sempat melakukan proyek penguatan kapasitas pemerintah di Jogja. Alasan lain adalah Ternyata setelah mendapatkan kontak dari orang GIZ, proyek di Jogja sudah selesai 2011, dan sekarang proyeknya ditarik ke Semarang. Yaaahhh… 
Searching berlanjut kenapa tidak ke LSM saja? Berdekatan dengan kaum idealis dan akar rumput mungkin akan menjadi pembelajaran baru dan kritis bagi saya pribadi. Pilihan jatuh ke Combine Resource Institution. Ada beberapa alasan mengapa memilih LSM yang bermarkas di Bantul tersebut. Pertama adalah penghargaan tinggi sekaligus keheranan saya ketika bencana Merapi 2010 kemarin (bahkan sampai sekarang). Combine melalui ‘Jalin Merapi’ adalah salah satu sumber informasi melalui akun twitter yang up to date bukan hanya tentang status Merapi tetapi juga update kebutuhan korban dengan pos-pos bantuan yang mereka dirikan.

ALasan kedua adalah keberadaan ‘kenalan’ yang sudah bekerja lama di Combine. Beliau memberi banyak nasehat tentang apa dan bagaimana Combine, serta proyek apa yang sedang dilakukan. Ini tentu untuk menghindari ‘pengangguran tidak kentara’ ketika melakukan internship. Setelah mendapatkan cukup informasi, ternyata yang dari awalnya ingin ke masalah Merapi, saya terbelokkan ke program SID (Sistem Informasi Desa). Tentu saja, untuk mengecek seperti apa SID ini, saya browsing mbah google untuk mengetahui seperti apa gambaran kasar SID sebelum melangkah lebih lanjut: menghubungi coordinator program.

Tidak butuh waktu lama untuk mengubungi coordinator program dan direktur Combine via email yang kemudian menyetujui permohonan internship dengan mudahnya. Salah satu sisi positif yang saya rasakan dari proses di Combine adalah mereka tidak membutuhkan proses surat menyurat yang resmi dan berbelit belit. Kata bu direkturnya, “Kami adalah institusi pembelajaran, jadi tidak perlu surat yang terlalu ribet”.
APa itu Combine dan SID? Tunggu postingan berikutnya.

Salam..
Godean, 03 Maret 2012

Many thanks to:
• Istriku yang networkingnya mantap.
• Mbak Merry, ‘kenalan’ yang dicritakan di atas
• Mas Elanto ‘JOYO’ Wijoyono, koordintor SID
• Bu Direktur..

*Tulisan ini semoga menjadi jawaban atas pertanyaan seseorang 

 
Leave a comment

Posted by on 5 March, 2012 in Every-thinks

 

Photos of the Day: Olympia Stadion 2.0

Okeyyy… Perjalanan kali ini akan mengulang apa yang sudah saya lakukan dulu sendirian ke Olympia Stadion, markasnya Hertha Berlin, klub menengah di Bundesliga, Jerman. Bedanya, kali ini saya ditemani rekan dari Jena, mas Miga, plus dengan +5Euro/orang kami memasuki stadion, melihat markasnya dari dalam.. Gimana rasanya?? monggo dinikmati langsung dari kamera pocket Sony DSC W530 saya..

Kostum Hertha Berlin

Inside Olympia Stadion

Lorong di Stadion

Peta Stadion

Fasilitas Renang di samping stadion

Fasilitas Jalur Kereta S-Bahn (Kereta) dari dan ke Stadion

Bonus:

Kuskus diantara Beruang..

Credit to my Friend, Mas Miga..

 
Leave a comment

Posted by on 20 February, 2012 in Uncategorized