RSS

Internship 2.0: Combine, SID dan minggu pertama (02)

Selasa, 28 Februari 2012
Berbekal ingatan hasil searching di google maps, ternyata tidak susah menemukan kantor Combine Resource Institution yang lokasinya di belakang Pasar Niten baru. Inilah hari pertama petulangan internship saya dimulai. Sesuai hasil surat menyurat email dengan Mas Joyo, coordinator program SID, hari ini jam 10 pagi adalah hari pertama saya memulai internship. Tepat jam 10 pagi sampai pukul 1 siang, beliau menjelaskan beberapa informasi tentang Combine dan SID, sambil diselingi diskusin antara kami. Beberapa informasi yang ada di catatan saya adalah sebagai berikut.
1. Combine merupakan program dibawah SMERU pada tahun 1999, sebelum menjadi institusi penguatan kapasitas sampai sekarang, yang dikenal dengan istilah CRI = Combine Resource Institution. Ada 4 pilar yang dimiliki Combine yakni:
a. pilar komunikasi, contoh program yakni suarakomunitas.net, Jalin Merapi dan Tikus Darat
b. pilar ekonomi, program Pasar Komunitas (pasartani.combine.or.id)
c. pilar kapasitas akar rumput, program Lumbung Daya dan Lumbung Komunitas
d. pilar yang tidak ada dalam catatan saya (maaf lupa… )

2. Asal mula SID pada awalnya dimulai semenjak tahun 2004 dan 2005. Contoh yang menjadi tolok ukur adalah Sekolah Alternatif Qoryah Tayyibah Salatiga Baharuddin (sppqt.or.id). Jangan menilik dari namanya, karena ini adalah sebuah perkumpulan kelompok tani yang merupakan sebuah ‘collective action’ dari para anggotanya untuk memetakan keahlian.

3. Lumbung Daya dan Lumbung Komunitas merupakan dua program yang menjadi awal mula sebelum adanya program SID, dimulai dengan diskusi pada 2006 yang menjadi intensif semenjak 2008. Diskusi yang melibatkan Desa Terong, Bantul dan Desa Balerante, Klaten mendapatkan suatu kesimpulan bahwa dibutuhkannya manajemen data dan informasi yang efektif dan efisien dalam pemerintahan desa, terlebih selama ini desa hanya sebagai pos pengumpulan data saja, desa tidak memiliki hak otonom dalam pengelolaan data. COntoh mudahnya dalam pembuatan KTP dimana desa hanya membuatkan surat untuk dibuat di kecamatan. Hasil diskusi tersebut masih menimbulkan beberapa pertanyaan seperti:
- Siapa kelompok sasaran dalam system informasi tersebut?
- Bagaimana menegelola jumlah komunitas di desa yang banyak?
- SID dikelola pemdes??
- Keakuratan dan peng-update-an data?
- Hubungan SID dan profil desa?? (profil desa adalah 84 indikator database desa yang harus di’setor’kan oleh Pemdes tiap tahunnya kepada Kecamatan dan Kabupaten)

4. Meninggalkan sejumlah tandantanya sebagai tantangan yang harus dipecahkan, pada 2009 inisiasi SID dimulai di Balerante dan Terong, dimana pada 2010 SID versi 1.0 resmi diluncurkan. Pada awalnya SID merupakan basis data kependudukan yang mana target besarnya nanti adalah basis data yang berdasar pada pengelolaan sumber daya komunitas sebagai dasar pengambilan keputusan.

5. Saat ini sudah beberapa desa menerapkan SID 2.0 dimana contoh yang sukses adalah di terong-bantul.web.id. Penekanan yang dilakukan oleh SID adalah bahwasanya online bukan merupakan target utama atau prioritas dari program ini. Penekanan yang utama justru pada update data, sustainability, keakuratan dan strategi yang konvergen.

Comments:
1. Awalnya saya sendiri agak ‘pesimis’ dengan keberadaan database dengan menggunakan pola system informasi (entah online atau offline) yang ada di tingkatan desa. Memang benar kalau desa itu cikal bakal pembangunan di Indonesia, bahkan ada sebuah pepatah yang bilang bahwa dengan membangun desa sama artinya dengan membangun Negara. Persepsi saya masih juga meng-under estimate-kan desa, apakah iya mampu? Salah satu pertanyaan besar saya adalah “Bagaimana dengan resource(s) pengelolaannya yang mungkin terbatas kalau ini berada di tingkat desa?” karena ini akan berpengaruh pada keberlanjutan program itu sendiri. Tidak mungkin sebuah program di tingkatan desa didampingi terus menerus oleh sebuah LSM bukan?? Walau saya tidak tahu angka pastinya, tingkat pengetahuan internet dan basis data masyarakat desa ‘mungkin’ lebih rendah dari masyarakat peri-urban dan urban. Saya sendiri pernah 2 bulan KKN di sebuah desa di Wonosobo, yang human resource nya luar biasa, tapi untuk di-instal program seperti ini? Inilah pertanyaan nakal saya yang membuat ketertarikan saya semakin menjadi di internship ini.

2. PErtanyaan saya diatas sedikit terjawab dengan contoh sukses SID di Desa Terong. Aparat desa-nya sudah melek computer, dan SID di desa Terong sendiri merupakan inisiatif dari desanya, bukan dari Combine-nya. Ini mungkin titik balik yang mejadi catatan saya hari ini. Bahwa untuk installment program SID, harus merupakan inisiatif dari desa yang bersangkutan. Combine memang akan menjadi actor utama yang akan membantu, tetapi tetap, inisiatif adalah dari desa. INilah mungkin yang membedakan dengan program-program lain, dimana desa harus meng-agguk-angguk mengikuti kebijakan program, dengan inisiatif asal mula entah dari mana (biasanya sih pemerintah kabupaten atau bahkan pusat!)

3. Titik balik point 2 itulah yang membuat saya berpikir lagi bahwa dengan inisiatif dari desa, mereka sudah menakar dan menilai diri mereka plus kemampuan mereka untuk melaksanakan program ini. Jadi mungkin mereka sudah siap dengan senjata sebelum pergi perang dengan SID. Termasuk mungkin SDM pengelolanya dan bagaimana menjaga keberlanjutannya.

Rabu, Kamis 29 dan 1 Maret 2012
Setelah diskusi yang sangat menarik di hari pertama, 2 hari berikutnya sangat membosankan (jujurrr!!). Saya diberi beberapa literature dan bacaan untuk ditelaah, karena kebetulan Februari akhir adalah hari tutup buku. Mas Koordinator sibuk dengan LPJ dan kwitansi-kwitansinya. Hari rabu bahkan saya sempat pergi ke kampus UGM dulu, sekedar setor muka.. hehe :D
Saya sempat takut kalau ini yang akan terjadi sebulan kedepan, baca literature, browsing dan lain-lain, apalagi ini adalah bulan baru sesudah tutup buku. Biasanya, awal bulan buku adalah awal yang membosankan dan berkutat dengan anggaran. Syukurnya, email dari Mas Joyo di Kamis sore menghapus semuanya. Email tersebut berisi ajakan untuk mengikuti pertemuan MPM di Wirobrajan Jumat jam 9 dan diskusi dengan IDEA jam 13. Tanpa tahu apa itu MPM dan IDEA, wajah saya berseri sore itu. 

Comments:
1. Meski hanya studi literature dan browsing, beberapa hal sempat saya cari, misalnya mencari bagaimana keberadaan data yang akurat dan ter-update mampu menjadi instrument penting dalam pengambilan keputusan (yang ternya agak ruwet karena menggunakan analisis AHP dan teman-temannya). Referensi saya juga bertambah dengan membaca system desa-kotanya Mbah Terry McGee meski dulu sudah dijelaskan waktu S1.

2. Saya juga sempat merasa agak aneh dengan SID yang dimiliki beberapa desa sasaran program, karena terlihat jelas kesuksesan desa Terong dibanding desa lainnya, terutama dari segi kelengkapan dan update data. (walau waktu membaca komen yang ditinggalkan pengunjung di Desa Terong mempertanyakan ‘kok datanya jarang di-update’)

Jumat 2 Maret 2012
INi adalah hari saya mendapat banyak ilmu. Mengapa? Oke, saya jelaskan per agenda, mulai dari agenda pertama: MPM dan kedua: diskusi dengan IDea

1. Masyarakat Peduli Media (MPM)
Sampai saat ini ditulis, saya masih belum tau apa itu MPM (yang awalnya saya kira berafiliasi sama Muhammadiyah), dan saya malas mencari tau dengan google. Yang saya tau pada pagi itu, markasnya MPM digunakan untuk diskusi tentang UU Keterbukaan Informasi Publik yang belum berjalan di Yogyakarta. Di Jogja sendiri sesuai amanat UU tersebut telah terbentuk Komisi Informasi Publik DIY semenjak September 2011. Komisi ini menengahi bila ada sengketa keterbukaan informasi. Ambil contoh misal X wali murid di SD pqrs meminta pihak sekolah mengeluarkan informasi bagaimana cara menilai siswa yang boleh dan tidak boleh masuk di sekolahnya, tetapi si pihak sekolah tidak memenuhi permintaan tersebut, sehingga dibawalah masalah ini ke komisi tersebut untuk dipecahkan bersama. Nah, apa yang terjadi di Jogja adalah semenjak komisi tsb terbentuk, belum ada satupun aduan masyarakat yang bisa ditindaklanjuti. Beberapa indikasi mengapa aduan tersebut masih NOL adalah:
- Budaya ewuh pakewuh, kekerabatan dan lain lain yang ada di Jogja, terutama untuk mengadukan
- Ketidaktahuan masyarakat tentang UU ini
- MEmang tidak ada masalah! 

Nah, diskusi yang dimulai semenjak jam 10 sampai jam 12 ini membahas masalah tersebut dan bagaimana solusinya. Diskusi sendiri dihadiri oleh beberapa LSM dan aktivis-aktivis lainnya menyimpulkan bahwa:
a. Perlu adanya ‘pendidikan’ kepada masyarakat, bukan hanya sosialisasi tetapi juga contoh nyata, salah satunya dengan menerapkan UU KIP diantara peserta yang hadir.
b. Adanya tema-tema tertentu yang akan dikawal oleh para peserta, contohnya:
– Tema transportasi: pengelolaan bus TransJogja, retribusi Parkir
– Tema planning: rencana Kridosono, rencana Malioboro
– Tema kesehatan: manajeman askes untuk warga miskin

Comments:
Sebenarnya saat diskusi inilah mata saya terbuka, bagaimana posisi dan keberadaan LSM ternyata cukup penting dalam pengelolaan kota, terkait dengan akuntabilitas dan transparansi. Selama ini, kalau ikut proyek tata ruang, saya menganggap bahwa ada saatnya nanti diseminasi atau sosialisasi kepada masyarakat, terkait rencana yang sudah disusun, itupun kalau dananya masih ada dari konsultan. Dengan mengikuti diskusi ini, saya merasa bahwa masih banyak informasi yang ditutup oleh planner kepada masyarakat, bagi saya sendiri terkadang agar pembuatan rencana “tidak terganggu” oleh suara-suara vocal masyarakat.

2. Siang: Diskusi dengan IDEA
Setelah jumatan, diskusi dilanjutkan di Raminten, Kota Baru, semacam tempat makan asik yang baru pertama kali itu juga saya datangi. Topik kali ini cenderung kepada tema internship saya tentang SID. Ternyata dalam implementasinya di Gunung Kidul, SID yang dibangun oleh Combine juga bekerjasama dengan IDEA, sebuah LSM yang bergerak dalam pengentasan kemiskinan. Mengapa? Ya karena topic SID yang di Gunung Kidul memang untuk pengentasan kemiskinan.

Diskusi sembari makan siang tersebut, membahas tentang progress dan rencana SID di Gunung Kidul, terutama persiapan dalam 2 minggu ke depan yang akan mendapatkan kunjungan dari Jakarta dan dari Menkokesra. Meski diskusi cenderung kepada persiapan desa tsb sebagai kunjungan, tetapi juga dibahas beberapa isu tentang SID di Gunung Kidul, terutama bagaimana sinkronisasi SID dengan Profil Desa dan bagaimana SID mampu menampung indicator kemiskinan yang berbeda-beda antar instansi (setidaknya ada 4 instansi yang memiliki indicator kemiskinan).
Comments:
Yak, inilah yang benar-benar menghapus ketakutanku kalo kalo internshipku kali ini bakal dibalik meja saja. Hehe..  Dengan ngikuti proses SID di Gunung Kidul, aku bisa menjawab pertanyaanku sendiri tentang seberapa mampukah dan sebera sustainkah nanti SID ini di implementasinya.

Next Agenda:
Senin: Diskusi internal di Combine untuk persiapan kunjungan
Selasa: Diskusi dengan IDEA
Rabu-Sabtu: ke Gunung Kidul!

 
Leave a comment

Posted by on 5 March, 2012 in Uncategorized

 

Internship 2.0: Apa, Mengapa, Dimana (01)

Di perkuliahan saya, ada mata kuliah internship (2 ECTS) yang mewajibkan mahasiswa untuk melaksanakan program tersebut dimanapun tujuan mahasiswa tsb. Pengelola program studi dari awal perkuliahan memperkenalkan internship salah satunya dengan tujuan sebagai penjembatan mahasiswa untuk mencari topic dan data thesis. Oleh karena itu, ketua program studi saya tidak terlalu membebani mahasiswa tentang lokus, berapa lama, dan apa yang akan dikerjakan, bahkan untuk pertanggungjawabannya hanya diminta menulis laporan ‘setebal’ 3 lembar saja!! Saya sendiri sempat berpikir bahwa inilah bedanya internship S1 dulu dengan S2 sekarang, dimana mahasiswa S2 mungkin cenderung lebih bertanggungjawab dan lebih dipercaya, jadi ya terserah si mahasiswanya.
Flashback sebentar ketika S1 dulu, saya internship atau istilahnya kerja praktek (KP) di program pengentasan kemiskinan PNPM-P2KP. Dengan beban 3 sks, ada batasan waktu yang diwajibkan dari program studi saya, termasuk pembimbingan dan laporan dengan dosen yang telah ditunjuk. Saya melakukan Kegiatan KP dengan terlibat langsung dalam tim yang mendampingi masyarakat 6 kelurahan untuk implementasi program PNPM P2KP selama kurang lebih 5 bulan. Banyak pengalaman yang saya dapatkan karena itu adalah untuk pertama kalinya saya terjun berdampingan dengan masyarakat, terutama masyarakat kota yang dalam mindset saya, meski hanya di Yogyakarta tetapi telah menjadi kaum urban dengan dinamika yang penuh tantangan. Ketertarikan saya pada social planning ini lebih dalam kemudian membuat skripsi saya juga bertema yang sama.

Kembali ke tema internship kuliah saya yang sekarang, kebebasan yang diberikan ternyata tidak semudah pelaksanaannya. Banyak riset-riset dan pekerjaan internship yang mensyaratkan kemahiran bahasa jerman cas cis cus, sesuatu hal yang juga diingatkan oleh ketua program studi saya. Ketua program studi saya juga menyarankan untuk pulang kampung saja untuk melaksanakan internship, bagi yang kesusahan dengan syarat ini. Bagi saya pribadi ini seolah ‘pembenaran’ sekaligus peluang untuk benar-benar pulang kampung dan menjenguk buah hati tercinta. hehe :)

Dengan keterikatan lokus yang ‘sebaiknya’ di Jogja, membuat kepala sempat berkerut juga. Sepertinya tidak mungkin saya internship di instansi kepemerintahan sementara saya belum tau topic thesis saya akan seperti apa. Berbeda misalnya bila saya sudah tahu topic saya, misalnya topic pertanahan Sleman, mungkin bisa di BPPD atau BPN Sleman. Tanpa tau topic yang akan saya dalami, saya putuskan untuk kemudian melakukan internship dimana saya bisa belajar dengan lebih optimal.

Awalnya, saya putuskan untuk ke lembaga yang ada kaitannya dengan Jerman, GIZ, karena selain saya kuliah disini, sepengetahuan searching ‘mbah’ google, GIZ juga sempat melakukan proyek penguatan kapasitas pemerintah di Jogja. Alasan lain adalah Ternyata setelah mendapatkan kontak dari orang GIZ, proyek di Jogja sudah selesai 2011, dan sekarang proyeknya ditarik ke Semarang. Yaaahhh… 
Searching berlanjut kenapa tidak ke LSM saja? Berdekatan dengan kaum idealis dan akar rumput mungkin akan menjadi pembelajaran baru dan kritis bagi saya pribadi. Pilihan jatuh ke Combine Resource Institution. Ada beberapa alasan mengapa memilih LSM yang bermarkas di Bantul tersebut. Pertama adalah penghargaan tinggi sekaligus keheranan saya ketika bencana Merapi 2010 kemarin (bahkan sampai sekarang). Combine melalui ‘Jalin Merapi’ adalah salah satu sumber informasi melalui akun twitter yang up to date bukan hanya tentang status Merapi tetapi juga update kebutuhan korban dengan pos-pos bantuan yang mereka dirikan.

ALasan kedua adalah keberadaan ‘kenalan’ yang sudah bekerja lama di Combine. Beliau memberi banyak nasehat tentang apa dan bagaimana Combine, serta proyek apa yang sedang dilakukan. Ini tentu untuk menghindari ‘pengangguran tidak kentara’ ketika melakukan internship. Setelah mendapatkan cukup informasi, ternyata yang dari awalnya ingin ke masalah Merapi, saya terbelokkan ke program SID (Sistem Informasi Desa). Tentu saja, untuk mengecek seperti apa SID ini, saya browsing mbah google untuk mengetahui seperti apa gambaran kasar SID sebelum melangkah lebih lanjut: menghubungi coordinator program.

Tidak butuh waktu lama untuk mengubungi coordinator program dan direktur Combine via email yang kemudian menyetujui permohonan internship dengan mudahnya. Salah satu sisi positif yang saya rasakan dari proses di Combine adalah mereka tidak membutuhkan proses surat menyurat yang resmi dan berbelit belit. Kata bu direkturnya, “Kami adalah institusi pembelajaran, jadi tidak perlu surat yang terlalu ribet”.
APa itu Combine dan SID? Tunggu postingan berikutnya.

Salam..
Godean, 03 Maret 2012

Many thanks to:
• Istriku yang networkingnya mantap.
• Mbak Merry, ‘kenalan’ yang dicritakan di atas
• Mas Elanto ‘JOYO’ Wijoyono, koordintor SID
• Bu Direktur..

*Tulisan ini semoga menjadi jawaban atas pertanyaan seseorang 

 
Leave a comment

Posted by on 5 March, 2012 in Every-thinks

 

Photos of the Day: Olympia Stadion 2.0

Okeyyy… Perjalanan kali ini akan mengulang apa yang sudah saya lakukan dulu sendirian ke Olympia Stadion, markasnya Hertha Berlin, klub menengah di Bundesliga, Jerman. Bedanya, kali ini saya ditemani rekan dari Jena, mas Miga, plus dengan +5Euro/orang kami memasuki stadion, melihat markasnya dari dalam.. Gimana rasanya?? monggo dinikmati langsung dari kamera pocket Sony DSC W530 saya..

Kostum Hertha Berlin

Inside Olympia Stadion

Lorong di Stadion

Peta Stadion

Fasilitas Renang di samping stadion

Fasilitas Jalur Kereta S-Bahn (Kereta) dari dan ke Stadion

Bonus:

Kuskus diantara Beruang..

Credit to my Friend, Mas Miga..

 
Leave a comment

Posted by on 20 February, 2012 in Uncategorized

 

Senja dari Balik Jendela..

Rembulan di balik jendela..
diantara kelamnya malam dan dinginnya cuaca..
Biar kunikmati kerinduan ini..

Dari lantai lima, mencoba mengingat angka.
Berapa hari terlewati, brapa lama lg kunanti.
Ruang waktu takkan berhenti, hingga masa itu terjadi..

Lirih bersyukur pada Sang Khalik..
dengan sujud yg takpernah terwujud..
Mengingat bait yg terlewati..
Perjalanan dibalik hikmah, bertahan &berjuang..

Mata takut terpejam..
Ketakutan yg mulai merajam..
Berbagai rupa menggelayut datang..
Entah bagaimana esok pagi menjelang..

Triftstr. 67
(dari twit 6 dan 13 Februari)

 
Leave a comment

Posted by on 19 February, 2012 in Uncategorized

 

Photos of The Day: It’s Meee!!!

 

 
Leave a comment

Posted by on 25 January, 2012 in Uncategorized

 

Berlin: Poor but Sexy, 20 Years after Re-unification

To know more about the city, planners have to understand the historical background as one part of the analysis. Berlin as the capital city of German has its own history. It started as a divided city from 1945 until 1989 which was ruled by France, British, and the US in the western area, and by the Soviet Union in the eastern area. It was separated by the wall which became a barrier and a non-building-zone. The wall also impacted building character by not allowing windows to face the border. In this period, Berlin became a very complex city because geographically it was located in eastern German, and furthermore, Berlin itself was divided into western and eastern areas.

After the reunification in 1990, Berlin grew as an important place in the middle of Europe. From 1990 until 1995, there was a boom period in Berlin. Berlin had 23 districts and many developments are being made in these years. Buildings such as Potsdamer Platz became the new landmark of the place. In the next period from 1995 until 2000, development in Berlin was leveling, so there were not as many new buildings as in the period before. Furthermore, nothing happened in Berlin in the period between 2000 and 2005. The biggest occasion only happened in 2001 during which Berlin reduced the numbers of its district from 23 to 12 districts, Berlin had no new ideas to develop the city. Subsequently, slight increase happened from 2005-2007 but there has been a down turn since 2007 until the present global recession.

Nowadays, Berlin is a poor city. There are no agriculture and industrial areas. 12.7% of the society is unemployed; higher than German which only 5.9%. Berlin also has to pay a lot of welfare meanwhile the economy grows slowly. Surprisingly, the population pyramid shows that there are more young-group than old and the children. With this kind of situation, Berlin has tried to shift the development paradigm into one that is more attractive than before. This strategy is obviously to fulfill the young-group needs, such as education-systems, entertainments, shops, sports, telecommunications, etc.

These situations are not much different with the physical and social condition. Geographically, at least there are 3 brown field areas that until now still and will abandoned: the Heidestraße, Flughafen-Tegel, and Speeraum. Heidestraße, located near the main station Hauptbahnhof, is one of the examples. Owned by the former railway company; people usually do not realize that there is an unused area in front of the center of the city.

There is also a social condition called gentrification. Gentrification is a transformation process of social group, which involves an ‘invasion-succession cycle’.  The pioneers have to move into another place because of the pressure from the new-comers. It happened in the 1960’s in US and Canada, and in the 1990’s in Germany. Gentrification has 4 phases. First is the entry of the pioneers. Pioneers such as students and artists usually try to find the cheapest place to live, so it does not matter if the place has a high risk. The next phase is the entrance of more pioneers and gentrifiers. After the pioneers have settled in the place, it will attract more people to stay there. Moreover, as the third phase, more and more gentrification occurs in the place. In this phase there is an increasing value of land-rent and social conditions of the place which make the pioneers become anxious about their condition. Finally, in the fourth phase, there is yet more gentrifiers which make both the pioneers and old habitants move out from the place. In conclusion, there have been many attempts to try to solve the problems of gentrification, but they have not yet been successful.

Brandenburg Gate: Famous Landmark in Berlin

 
Leave a comment

Posted by on 25 January, 2012 in Uncategorized

 

Teruntuk yang Mengajarkan Alif..

Teruntuk yang Mengajarkan Alif..
(…- 5 November 2011)

Sabtu itu awalnya terasa seperti hari biasa, beda waktu 6 jam membuat waktu sore di Indonesia adalah waktu menjelang siang disini. Ternyata sabtu  5 November adalah sabtu yang berbeda, sangat berbeda.. Sabtu itu Mbah Kakung dipanggil untuk selamanya oleh Yang Maha Memiliki, Alloh SWT…
Innalillahi wa innailaihi raji’un..

Tiba-tiba pikiran memutar ke masa lalu, ketika waktu masih seumuran TK dan SD setiap sore belajar TPA di masjid dekat Mbah, masjid dimana simbah selalu melantunkan adzan dengan uniknya.. Ya unik.. Sampai aku berumur 25 ini, belum satupun ketemui adzan seunik simbah. Suara beliau kecil melengking dan tinggi. Mungkin kalau dibandingkan dengan muadzin muadzin langganan maghrib di tv, pasti simbah kalah, tapi kalau soal unik, simbah pasti jagonya. Subhanalloh… Bahkan suaranya terkadang karena angin terdengar sampai rumah yang berjarak setengah kilo lebih. Dan orang sekitar pasti langsung bersambut, “kuwi Simbahmu, Wan…”

Masih tergambar jelas pula ketika itu, Simbah masih mengendarai sepeda dan pergi ke kebun atau ke sawah. Waktu itu kupikir.. “ya wajar karena umur Simbah masih 60an”. Tapi ternyata waktu meninggal beliau berumur 95 tahun!!! Jadi waktu kecilku itu simbah berumur: 70an tahun dan masih bugar!! Subhanalloh..

Penyesalanku terbesar saat sabtu itu adalah aku berada disini, di Berlin ini, jauh dari rumah. Bahkan waktu berangkat aku sama sekali tidak meminta doa dan restu beliau… Astaghfirulloh.. Padahal tahun kemarin, 25 Juli 2010 waktu aku menikah di Jogja, beliau masih menyempatkan memberi restu, dan alhamdulillah aku termasuk putu yang pernikahannya dihadiri beliau… Ya Alloh…

Mbah kung.. maafkan putumu ini.. Doa putu selalu untukmu, yang mengajarkan alif.. Khusnul khotimah, amal ibadah mbah diterima di SisiNYA. Aminnn…

 

 

 

 

Triftstr, 67 Berlin
23 November 2011
00.02

 
1 Comment

Posted by on 23 November, 2011 in Every-thinks

 

Photos of The Day: Lost in Olympia Stadion (October 10, 2011)

Sebagai penggemar bola, wajib untuk melihat stadion megah di kota yang dikunjungi. Di Berlin, stadion yang cukup megah namanya Olympia Stadion. Ane kesana 10 Oktober 2011, sendirian, 4 hari setelah kedatangan pertama kali di Berlin. Stadion ini adalah kandangnya Hertha Berlin dan Union Berlin. Mungkin yang terbiasa dengar adalah Hertha Berlin, klub middle-table di Bundesliga.
Sampe disono, kukira masuknya gratis, ternyata bayar 7 Euro, yasudah jalan-jalan disekeliling aja deh,.. Nih poto-potonya… Enjoy it!! Ini pake kamera pocket lo ya, jadi jangan berharap banyak pada kualitas gambar.. hehe

 Gabungan… (yang gagal, hehe)


Jalan masuk ke stadion

 Jalan sebelum masuk stadion

 Pelataran Depan Stadion

 Olympia Stadion!

 Manttapp!!

 Narcis dulu!!

 
Leave a comment

Posted by on 20 November, 2011 in Every-thinks

 

WINTER TIPS

Tips dari temen selama winter:

1. Buka jendela kamar, setidaknya 5-10 menit dalam sehari. Ini penting dilakukan untuk menjaga sirkulasi udara, kelembapan, dan meminimalkan tumbuhnya jamur. Bila udara sangat dingin, bisa diganti dengan mendidihkan air dan biarkan terbuka di ruangan tsb.

2. Saat musim dingin, biasanya kita berpakaian tebal dan rapat. Usahakan kalau pas lagi lari atau jalan cepat, buka sedikit bagian atas resleting jaket untuk membiarkan udara masuk. Kata temen siy biar keringatnya tdk mendekam di dalam jaket.

3. Jangan terlalu sering mandi. Kaget juga waktu denger ini, kirain buat alesan bagi yang males mandi. Yappp ternyata kalo keseringan mandi waktu winter gak baik buat kulit dan rambut. Walau di wohnung ada air anget, keseringan mandi waktu winter bikin kulit jadi keriput dan rambut sangat mudah patah.

Silakan kalo ada yg ingin nambahin. Ini hanya kata temen lo ya, saya juga blom membuktikan, salju aja kayak gimana belom tauu.. hehehe… :D

 
Leave a comment

Posted by on 20 November, 2011 in Uncategorized

 

Photos of The Day: Berlin Festival of Lights

Festival of lights di Berlin diadakan setiap tahun menjelang musim dingin, biasanya pada bulan Oktober. Pertama kali kesana, diajak sama mahasiswa S1 yang sedang studi disini. Bangunan-bangunan yang menjadi landmark seperti Bradenburger Tor, Unter den Linden, Berliner Dom, Fernsehturm di hias tata lampunya dengan gemerlap cahaya yang memadu indahnya malam. Puncaknya adalah di Potsdamer Platz, di dekat Sony Center. Info lengkapnya bisa dilihat disini http://festival-of-lights.de/

Sepanjang Unter den Linden

Berliner Dome

Logo

Sony Center

Berlin, 15 Oktober 2011, dokumentasi pribadi.


 
Leave a comment

Posted by on 25 October, 2011 in Every-thinks

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 214 other followers